Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Raden Suryaganggawangsa

Posted: Minggu, 26 Agustus 2012 by Rusman Effendi in
0

Kapal berlayar di bawah pimpinan nakhoda Lampung yang segera sampai di Majapahit. Dengan perantaraan Patih Gajah Mada, beliau dibawa menghadap Raja Majapahit. Raja sangat girang setelah mendengar berita yang menggembirakan itu dan dengan segera menitahkan menyerahkan buah-buahan yang diinginkan dengan ditaruh di dalam kotak emas. Nakhoda Lampung segera mohon diri dan berlayar kembali dengan membawa hadiah-hadiah yang berupa beras, kelapa, gula, minyak kelapa, asam kamal, bawang, rempah-rempah dan kain-kain batik yang indah. Setibanya di Negara Dipa, ia dianugerahi pula oleh Maharaja Suryanata karena telah berhasil dengan baik menjalankan perintah yang dititahkan kepadanya.

Setelah cukup bulannya, dan harinya, permaisuripun melahirkan seorang Putra, yang diberi nama Raden Suryaganggawangsa. Peristiwa ini dirayakan dengan membunyikan Si Rabut Paradah, gamelan Si Rarasati, dan senapan-senapan. Kebiasaan ini masih diadakan pada setiap lahirnya anak raja berikutnya.
Beberapa tahun kemudian permaisuri melahirkan kembali seorang putra yang bernama Raden Suryawangsa. Di zaman itu yang takluk kepada Maharaja Suryanata adalah raja-raja Sukadana, Sanggau, dan Sambas, kepala-kepala daerah Batang Lawai, dan Kotawaringin. Juga raja-raja Pasir, Kutai, Karasikan, dan Berau tunduk pula kepada Negara Dipa.

Pada suatu hari raja mengadakan pesta untuk segala Punggawa. Orang ramai bersuka ria. Dengan senda gurau dan gelak tawa. Tetapi sekonyong-konyong raja mengabarkan berita yang mengejutkan mereka, bahwa raja dan permaisuri akan “kembali ke asal”. Oleh karena itu, kedua putra mereka dipercayakan dibimbing atau diasuh Lambung Mangkurat. Rakyatnya diperingatkan jangan meniru-niru pakaian bangsa lain, dan adat serta susunan pemerintahan hendaklah menurut Jawa. Sebab tidak ada satu daerah di bawah angin yang akan dapat menyaingi Jawa. Jadi janganlah pernah menyimpang dari adat Majapahit. Selanjutnya raja mengulangi peringatan raja yang terdahulu, yaitu jangan menanam lada untuk perdagangan karena hal ini akan membawa runtuhnya negara. Juga jangan sekali-sekali menangkap orang-orang yang celaka oleh kekaraman kapal. Setelah mengucapkan amanat dan pesan itu, dengan tiba-tiba lenyap dan gaiblah raja beserta permaisuri dari pandangan rakyat yang merasa heran dan takjub. Seluruh negara turut bersedih dan berkabung.

Sebagai pengganti Maharaja Suryanata, dinobatkanlah Raden Suryaganggawangsa di padudusan dan di sinilah raja memakai mahkota yang datang dari langit. Setelah Raden Suryaganggawangsa memerintah, rajapun memperkenankan pulang gadis-gadis yang menjadi dayang Maharaja Suryanata. Raja memberi hadiah berupa pakaian dan alat-alat perkakas rumah. Bagi mereka yang ingin kawin, dikawinkan oleh raja.

Setelah Maharaja Suryanata, begitupun Maharaja Suryaganggawangsa memberikan pula kesempatan untuk menghadap setiap hari Sabtu dengan bertempat di Sitiluhur. Lambung Mangkurat diangkat menjadi Mangkubumi, sedang Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa adalah sebagai pengawal. Di bawahnya sebagai jaksa adalah Patih Baras, Patih Wasi, Patih Luhur dan Patih Dulu. Kemudian empat orang Menteri Kemakmuran, Sang Panimba Sagara, Sang Pangaruntun Manau, Sang Pambalah Batung dan Sang Jampang Sasak, yang mempunyai kekuasaan memerintah atas empat puluh orang pasukan keamanan. Juga saudara raja, Pangeran Suryawangsa yang mendapat gelar Dipati mempunyai pula seribu pengiring yang setiap saat siap menerima perintah Mangkubumi.

Lambung Mangkurat selalu mendorong beliau agar cepat beristri karena raja belum mempunyai permaisuri. Namun semua dorongan dan anjuran itu tidak berhasil. Pada suatu hari raja berkata bahwa dia mendengar suara dari paduka ayahanda yang telah gaib (meninggal dunia), mengatakan bahwa raja harus kawin dengan anak Dayang Diparaja. Lambung Mangkurat merasa malu dan khawatir karena dimanakah harus mencari permaisuri yang dimaksudkan itu? Arya Megatsari dan Temenggung Tatah Jiwa tidak dapat pula memberikan keputusan.

Oleh karena itu, dicobalah mengirimkan utusan ke semua pelosok, tetapi kebanyakan pulang dengan tangan hampa. Pada suatu hari, rombongan Singanegara (polisi) yang di dalam perjalanan memudiki sungai sampai di Tanggahulin, di pangkalan Arya Malingkun. Di sini mereka menemui seorang gadis yang sedang mandi di bawah pengawasan seorang pengawalnya. Ketika dia melihat rombongan Singanegara, ia terkejut dan berteriak “He, Dayang Diparaja, lekas! Itu datang rombongan Singanegara (polisi)”. Ketika rombongan Singanegara mendengar nama ini, mereka segera berdayung pulang kembali untuk memberi kabar pada Lambung Mangkurat. Singantaka dan Singapati, keduanya kepala dari barisan Singanegara (polisi). Mendapat perintah untuk meminta kepada Arya Malingkun, anaknya, guna dijadikan permaisuri raja. Mereka berangkat dengan empat puluh orang perempuan yang akan menjadi pengiring menuju ke Tanggahulin.

Arya Malingkun ternyata tidak sudi menyerahkan anaknya, walaupun sudah dijanjikan anaknya akan menjadi permaisuri, bukanlah untuk dijadikan dayang-dayang, penjogetan atau gundik. Dia tetap berkeras hati menolak. Utusanpun terpaksa pulang tanpa membawa hasil. Ketika Lambung Mangkurat yang mendengar perintahnya ditolak menjadi sangat marah dan mengambil keputusan untuk pergi sendiri ke Tanggahulin. Lambung Mangkurat berangkat dengan perahu yang memakai tanda kebesaran dengan diiringi oleh punggawa-punggawanya. Tidak berapa lama, tibalah dia di Tanggahulin. Ketika orang-orang di sana melihat kedatangan Lambung Mangkurat, orang-orang tersebut menjadi khawatir dan takut. Arya Malingkun datang dengan segera mengelu-elukan dan mempersilakan Lambung Mangkurat masuk ke dalam rumah. Dengan gusar dan marah Lambung Mangkurat berkata, apakah Arya Malingkun bersedia untuk menyerahkan anaknya atau tidak? Sekadar untuk menakut-nakuti anaknya, Lambung Mangkurat menikam tangannya dengan pedang. Arya Malingkun terkejut melihat Lambung Mangkurat sama sekali tidak terluka oleh senjata. Dengan agak ketakutan dia memerintahkan orang-orang segera menyuruh menjemput anaknya untuk diserahkan kepada Lambung Mangkurat. Setelah berhasil Lambung Mangkurat kembali bersama gadis tersebut untuk menghadap raja. Tetapi kemudian ternyata raja tidak mau kawin dengan Dayang Diparaja, karena yang diinginkan adalah anaknya. Sekarang timbul kesulitan yang harus dipecahkan. Siapakah yang harus mengawini gadis tersebut? Akhirnya semua sependapat dan setuju bahwa hanya Lambung Mangkuratlah yang pantas dan tepat untuk mengawini Dayang Diparaja. Perkawinan segera dilakukan. Perayaan perkawinan itu berlangsung selama tujuh hari lamanya.

Tidak berapa lama kemudian, Dayang Diparaja hamil. Walaupun telah cukup bulan dan harinya, dia belum juga melahirkan. Barulah sesudah lima belas bulan terasa menderita sakit selama tiga hari hendak bersalin. Dengan bermacam-macam cara dan syarat, dicoba untuk menjauhkan segala pengaruh jahat tetapi semuanya sia-sia belaka, bahkan Lambung Mangkurat sendiri telah putus asa. Tiba-tiba dari dalam kandungan ibu yang sakit itu terdengar suara: “Ooh ayah Lambung Mangkurat, tidaklah melalui jalan yang mudah anaknda akan lahir, tetapi ananda akan keluar dari sisi kiri ibunda”, bedahlah dan perbuatlah ini untuk anaknda”. Sejurus lamanya Lambung Mangkurat di dalam kebimbangan. Tetapi ternyata kewajibannya untuk mempersembahkan seorang permaisuri kepada raja adalah beban yang lebih berat lagi.

Lambung Mangkurat membedah sisi kiri perut Dayang Diparaja. Setelah dibedah, Dayang Diparaja meninggal sesudah berpesan supaya menjaga baik-baik anaknya. Seorang anak yang cantik lahir dengan perhiasan yang biasanya dipakai oleh gadis-gadis. Lambung Mangkurat memberikan perintah supaya menyusui anaknya yang diberi nama Putri Huripan. Tiga hari lamanya Putri Huripan tidak mau menyusu. Akhirnya dia sendiri mengatakan bahwa hanya akan minum air susu dari kerbau putih. Ayahnya, Lambung Mangkurat dengan segera memenuhi permintaan tersebut. Sejak itulah terjadi pantangan (tabu) bagi keturunannya untuk memakan daging kerbau putih.

Ketika Arya Malingkun dan istrinya mendengar kematian anaknya, Dayang Diparaja, merekapun mengambil keputusan untuk mengikuti jejak anak yang mereka dicintai tersebut. Sebelum meninggal dunia, Arya Malingkun memakan sirih dan pinang muda, sedangkan istrinya memakan sirih dan pinang tua. Mereka memerintahkan pesuruhnya untuk menanam sepah itu di dalam tanah. Dari sepah tersebut tumbuh jariangau dan pirawas yang akan berguna untuk obat cucunya Putri Huripan. Inilah asal mula jariangau dan pirawas tumbuh di Tanggahulin yang sejak saat itu disebut Huripan.

Ketika Putri Huripan sudah akil baligh, dia pun dipersembahkan kepada Raja Suryaganggawangsa sebagai calon permaisuri. Dengan segala upacara kebesaran, perkawinannya dirayakan. Sebagaimana lazimnya, kedua mempelai dimandikan di pancuran air (padudusan) dan kemudian diarak kembali ke istana. Beberapa lama kemudian, permaisuripun melahirkan seorang Putri bernama Putri Kalarang. Setelah Putri ini dewasa, dia dikawinkan dengan saudara raja, Pangeran Suryawangsa. Karena hanya Pangeran Suryawangsa sajalah yang layak untuk mengawininya.

Putri Kalarang kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Carang Lalean. Raden Suryawangsa juga masih mendapat karunia seorang putri yang diberi nama Putri Kalungsu. Atas keinginan Raja Suryaganggawangsa, kedua anak ini, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dikawinkan. Pada waktu inilah Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa meninggal dunia.

Pada suatu hari, semua keluarga dan pegawai istana sedang berkumpul dan bersenang-senang, maharaja Suryaganggawangsa dan putri Huripan menerangkan bahwa mereka akan “kembali ke asal”. Kepada Lambung Mangkurat diamanatkan supaya Raden Carang lalean dan Putri Kalungsu diajarkan adat turun-temurun dari raja-raja terdahulu. Lambung Mangkurat mencoba supaya raja dan permaisuri memalingkan pikiran agar menunda “kembali ke asal”. Tetapi sebelum itu, keduanya telah “menghilang” dari pandangan semua mata yang hadir.

Atas perintah Lambung Mangkurat, dibangunlah sebuah mahligai dan padudusan. Dengan disertai tembakan meriam dan tabuhan gamelan, Raden Carang Lalean dan Putri Kalungsu dimandikan dengan segala upacara. Kemudian raja baru itu pun meletakkan mahkota di atas kepalanya. Di dalam peraturan negara tidak ada perubahan yang diadakan. Setiap hari Sabtu tetap diadakan kesempatan untuk menghadap raja. Tak lama kemudian permaisuri melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Sekar Sungsang. Ketika putra raja itu berumur enam tahun, raja menerangkan akan “kembali ke asal”. Dia menyerahkan pemerintahan kepada Lambung Mangkurat, sementara putra raja belum dewasa. Kemudian raja pun lenyap dari pandangan mata hingga menimbulkan kesedihan seluruh rakyat dan keluarga istana. 


-oOo-

Sumber : Hikayat Banjar
Diketik ulang : Rusman Effendi

Harap mencantumkan link asal kalau Copy Paste ....

0 komentar: