Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Patmaraga dan Sukmaraga

Posted: Minggu, 26 Agustus 2012 by Rusman Effendi in
0

Empu Mandastana berputra dua orang, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setiap hari, kedua anak muda itu bermain di sekitar mahligai Putri Junjung Buih. Banyak anak gadis yang jatuh cinta kepada kedua anak muda ini. Mereka menjalin pantun dan menggubah seloka untuk menyatakan kerinduan mereka.

Pada suatu hari Putri Junjung Buih melihat kedua anak muda itu, hingga diketahuinya kedua anak itu adalah putra-putra dari Empu Mandastana. Sekadar untuk memberi hadiah sebagai tanda kebahagiaan hatinya, Putri Junjung Buih memberi sekuntum bunga nagasari kepada mereka. Bunga nagasari pada waktu itu belum tumbuh di Negara Dipa. Tetapi malang, tepat pada saat itu paman mereka, Lambung Mangkurat lewat di sana.

Dengan gusar dan cemburu Lambung Mangkurat menanyakan apa yang mereka perbuat di sekitar istana itu. Kemudian ia melarang kedua putra kakaknya itu untuk datang bermain-main di dekat kediaman raja. Hal itu karena Lambung Mangkurat berpendapat, kalau nanti sampai Putri Junjung Buih ingin bersuamikan salah seorang dari kemenakannya, maka dia kelak sebagai paman akan menyembah anak kakaknya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyingkirkan kedua anak muda itu.

Pada suatu hari dengan alasan bersama-sama akan pergi mencari ikan, ia mengajak kedua kemenakannya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga ke hulu sungai. Kedua anak itu menurut saja ajakan pamannya itu. Namun sebelum berangkat, mereka telah bermohon dan menyatakan selamat berpisah kepada ayah dan bunda mereka. Hal inilah yang kemudian menjadi pangkal kecurigaan.

Menjelang keberangkatan, Bangbang Sukmaraga menanam sebatang pohon kembang melati di sebelah kanan dari pintu rumah, sedangkan adiknya Bangbang Patmaraga menanam sebatang kembang merah di sebelah kiri, seraya berkata: “Jika daun-daun ini rontok berguguran, maka itulah tandanya kami berdua kakak beradik mati dibunuh oleh paman Lambung Mangkurat”!

Dengan berbaju putih, mereka pergi ke perahu, sedangkan Lambung Mangkurat telah datang terlebih dahulu menunggu mereka. Mereka bersama-sama berangkat dengan perahu ke hulu sungai hingga sampai di Batang Tabalong. Di sinilah kedua anak kakaknya tersebut dibunuh. Lambung Mangkurat menjadi keheran-heranan setelah mengetahui bahwa mayat Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga hilang lenyap seketika itu juga. Sampai sekarang tempat pembunuhan ini masih dikenal dengan nama Lubuk Badangsanak.

Empu Mandastana dan istrinya yang sedang dalam keadaan cemas dan khawatir menunggu kabar anaknya, tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya sejoli burung merak. Yang jantan hinggap di pangkuan Empu Mandastana dan yang betina di pangkuan istrinya. Maklum akan tanda-tanda ini, berdebar-debarlah hati Empu Mandastana dan istrinya. Seolah-olah mereka tahu bahwa kedua putra mereka telah mati dibunuh. Dengan serempak mereka menengok pohon-pohon yang ditanam oleh putra-putranya. Ketika melihat pohon-pohon itu, berlinanganlah air mata mereka karena daun-daun pohon itu satu demi satu berguguran. Segera mereka mengambil keputusan untuk mengikuti nasib kedua putranya, yaitu Bangbang Sukmaraga dan Bangbang Patmaraga. Setibanya mereka kembali ke candi, Empu Mandastana menikam dirinya dengan sebuah keris Keling yang bernama Parung Sari dan istrinya dengan Lading Malela.

Beberapa hari kemudian barulah Lambung Mangkurat mengetahui kematian kakaknya. Ia menanyakan kepada semua pengiring di manakah mereka paling akhir melihatnya. Tetapi walaupun sudah diselidiki dengan saksama, orang-orang tidak juga menjumpai Empu Mandastana dan istrinya. Sambil menduga apa yang mungkin terjadi, Lambung Mangkurat pergi menuju Candi. Di sana dia menjumpai kedua sosok tubuh yang telah menjadi mayat, terbaring tenang laksana tidur, sedangkan keris dan lading untuk bunuh diri tergeletak di samping mereka masing-masing. Di sekelilingnya tampak banyak burung yang mati bergelimpangan karena terbang melangkahi kedua mayat keramat itu.

Lambung Mangkurat memerintahkan pengiring-pengiringnya untuk membuang kedua mayat itu serta tanah-tanah tempat mayat itu terbaring ke laut. Di tempat itu kemudian menjadi sebuah telaga yang sampai sekarang dinamakan Telaga Raha (telaga berdarah). Konon jika ada seorang yang dianggap bersalah dan dibunuh, maka kelihatan air Telaga Raha itu akan berwarna kemerah-merahan selama dua puluh empat jam. Demikian pula halnya dengan sungai yang berhulu dari gunung Batu Piring, yaitu gunung tempat mengambil batung batulis untuk membuat tiang mahligai Putri Junjung Buih. Sampai sekarang sungai ini masih terkenal dengan nama Sungai Darah.

-oOo-

Sumber : Hikayat Banjar
Diketik ulang : Rusman Effendi 


Harap mencatumkan link asal kalau Copyy paste ....

0 komentar: