Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB D03CD22E


Berbagi ke

Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997

Posted: Jumat, 30 Desember 2011 by Rusman Effendi in
0


Kerusuhan Banjarmasin terjadi pada tanggal 23 Mei 1997, Banjarmasin dilanda kerusuhan massal, menyusuli kampanye Golkar pada hari terakhir putaran kampanye PPP menjelang pemilu 1997. Dilihat dari skala kerusuhan dan jumlah koreban serta kerugiannya, peristiwa yang kemudian disebut sebagai Jumat Membara atau Jumat Kelabu itu termasuk salah satu yang terbesar dalam sejarah Orde Baru. Namun, akibat ketertutupan pemerintah, tidak ada laporan yang akurasinya bisa dipercaya penuh mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan pada waktu itu. Dibandingkan dengan skalanya, berita-berita pers sangat terbatas dan tidak sebanding.

Tanggal 23 Mei 1997 kebetulan jatuh pada hari Jumat. Pada hari itu berlangsung putaran terakhir masa kampanye Pemilu 1997, yang secara kebetulan merupakan hari kampanye Golkar. Menurut rencana semula, setengah hari kampanye diawali dengan kampanye simpatik berupa pendekatan kepada kalangan bawah dengan target operasi buruh, pengojek, dan tukang becak. Kemudian, setengah hari berikutnya, usai ibadah Jumat, kampanye akan dilanjutkan dengan panggung hiburan rakyat di lapangan Kamboja. Pada acara tersebut akan hadir Menteri Sekretaris Kabinet (Mensekkab) Saadilah Mursjid, Ketua MUI KH Hasan Basri, dan artis-artis ibu kota. Rencana itu tidak pernah terwujud, karena yang terjadi kemudian adalah malapetaka berupa kerusuhan massal.

Hingga tengah hari, semua kegiatan di tengah kota Banjarmasin berjalan normal. Begitu pula di kompleks pertokoan Plaza Mitra, yang kemudian menjadi pusat kerusuhan. Pengunjung dan pembeli ramai seperti biasanya, para pegawai kompleks pertokoan berlantai empat itu pun bekerja sebagaimana hari-hari sebelumnya. Di lantai satu kompleks pertokoan yang terletak di tepi sungai Martapura ini terdapat perkantoran, antara lain kantor Bank Bumi Daya (BBD). Lantai 2 digunakan sebagai tempat penjualan pakaian, sementara di lantai 3 terdapat supermarket Hero, TB Gramedia, restoran CFC, dan bioskop. Di lantai 4 terdapat diskotik, kedai kopi, dan tempat hiburan, termasuk biliar dan sejenisnya.
Mulai sekitar pukul 9.00, kegiatan kampanye sudah semarak, warna kuning ada di mana-mana. Golkar membagi-bagikan saputangan bergambar beringin dan bekal nasi bungkus, masing-masing berjumlah 10 ribu buah. Sasaran kampanye ini ialah para buruh, tukang becak, tukang ojek. Pada sekitar pukul 11.00 kampanye membagi-bagi nasi bungkus dan sapu tangan usai dengan tenang.

Pada sekitar pukul 12.00 atau tengah hari, umat Islam menjalankan ibadah salat Jumat. Sewaktu ibadah berlangsung, sebagian massa kampanye Golkar, yang umumnya terdiri dari anak-anak muda dan remaja, masih berkampanye. Mereka berputar-putar keliling kota dengan menaiki sepeda motor. Banyak di antara sepeda motor itu knalpotnya dicopoti, dan suara raungan mesin motor dirasakan sangat mengusik ketenangan mereka yang sedang bersembahyang. Puncaknya, ketika arak-arakan sepeda motor tersebut melewati Masjid Noor di Jalan Pangeran Samudera. Masjid ini terletak di daerah basis PPP. Menurut sumber dari Tim Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) cabang Banjarmasin yang melakukan investigasi ke lapangan, ketika massa yang akan berkampanye itu melintas, jamaah salat Jum'at yang luber sampai ke jalan itu masih sedang berdoa. Sebenarnya Polantas sudah berusaha menghadang massa Beringin. Namun Satgas Golkar bersikeras untuk melewati jalan itu. Alasan mereka, salat Jumatnya tinggal membaca doa. Kemarahan jamaah dengan cepat menyebar seusai sembahyang Jumat dan sampai ke telinga penduduk di berbagai sudut Banjarmasin lainnya.

Usai salat Jumat, terjadilah kerusuhan di depan kantor DPD Golkar Kalsel. Kabar itu segera tersiar dan massa berdatangan tanpa bisa dibendung. Mereka akhirnya bentrok dengan Satgas Golkar, yang rata-rata berasal dari organisasi Pemuda Pancasila dan FKPPI. Karena massa terlalu banyak, Satgas Golkar terpaksa mencari jalan selamat. Tapi akibatnya, ada enam mobil peserta kampanye Golkar yang dibakar.
Di depan kantor Banjarmasin Post, dari arah timur ribuan massa menyerbu dengan membawa senjata aneka macam. Mereka berlari-lari ke arah lapangan Kamboja, tempat kampanye Golkar akan dilangsungkan. Di sepanjang jalan, semua bendera, spanduk, umbul-umbul Golkar diturunkan dan dibakari. Di sana, mereka bergabung dengan massa penyerbu yang mula-mula muncul di pinggir lapangan. Panggung kampanye pun diserbu dan dirobohkan. Kaum penyerbu bertarung dengan dua puluh ribu massal Golkar yang sedang berkumpul di sana. Para petugas keamanan tidak mampu mengendalikan pertarungan dengan kekerasan tersebut. Sebuah rumah ibadah (Gereja HKBP) yang terletak di dekat kantor Banjarmasin Post mulai terbakar. Mobil pemadam kebakaran yang berusaha mencegah menjalarnya api ke gedung Banjarmasin Post terpaksa pergi karena petugasnya dikalungi clurit oleh massa. Namun api tidak jadi melalap kantor Banjarmasin Post.

Sebagian massa menyerbu Hotel Istana Barito. Di sana, mereka berhadapan dengan ribuan massa Golkar yang berkumpul di depan hotel, sedang bersiap-siap untuk kampanye sore itu. Dari arah barat, tiba-tiba muncul ribuan massa lain, sebagian mengenakan kaos hijau dan atribut PPP. Dengan senjata tajam dan apa saja, mereka menyerbu massa di depan hotel. Mobil-mobil yang kebetulan ada di sana hancur luluh lantak, kaca-kaca hotel pecah dilempari batu.
Mulai pukul 15.00, listrik padam, menambah suasana mencekam. Kerusuhan meningkat. Sebagian besar tamu Hotel Istana Barito masih berada di dalam kamar mereka dalam kegelapan. Tiba-tiba satpam hotel menggedori pintu-pintu kamar dan berteriak, kebakaran! Para tamu pun berhamburan ke luar, menyelamatkan diri masing-masing. Dengan cepat, kerusuhan menjalar ke mana-mana. Massa terus melakukan pengrusakan, sambil meneriakkan yel-yel PPP. Beberapa orang mengenakan atribut PDI. Suasana semakin kalut. Massa merusak dan membakar mobil-mobil pribadi yang ditemui di jalan raya mana saja dan menjarah isinya. Sebuha mobil meledak, setelah dibakar di jalanan. Di depan Plaza Mitra, beberapa mobil segera bergelimpangan, sebagian terbakar. Seorang wanita naik sepeda motor dengan hanya mengenakan BH di bagian atas, karena kaos Golkarnya dirampas massa. Di jalanan, batu-batu berserakan, pecahan kaca bertebaran di mana-mana.

Di jalanan, fasilitas umum dihancurkan. Massa juga merusak dan melempari ruko-ruko yang berderet di sepanjang Jalan HM Hasanuddin sampai Jalan A.Yani, di kawasan Sudimampir, Jalan MT Haryono, dan Jalan Pangeran Samudera.
Di dalam kompleks Plaza Mitra, dengan persetujuan dari manajemen di Jakarta, pimpinan TB Gramedia memutuskan untuk menutup toko dan karyawan diminta segera meninggalkan lokasi kerja. Semua pulang, dengan catatan tidak memakai atribut PPP mana pun. Di depan Plaza Mitra, petugas mulai menutup jalanan dan membuat pagar betis untuk melindungi kompleks pertokoan itu. Tetapi, ribuan massa tidak terbendung. Mereka merangsek ke depan, memecah pagar betis petugas, memcahkan kaca-kacaetalase, masuk ke dalam gedung, dan menjarah apa saja yang bisa diambil. Gas air mata yang disemprotkan petugas tidak mampu menahan mereka.

Hingga saat itu, Plaza Mitra baru dirusak, tetapi belum terbakar. Kemudian, sebuah sedan putih didorong dan ditabrakkan ke kaca etalase Toys Kids di lantai dasar, sebelum akhirnya mobil itu dibakar. Api segera menyebar ke seluruh gedung. Setelah Plaza Mitra terbakar, gedung-gedung lain segera menyusul. Malam itu, seluruh empat lantai gedung Plaza Mitra musnah terbakar. Sementara itu, kerusuhan tidak hanya menjangkau kawasan petokoan. Wilayah pemukiman penduduk pun mulai terkena. Kampung Kertak Baru Ulu, khususnya RT 10 yang dihuni 30 KK mulai dilalap api sejak pukul 16.35 waktu setempat. Kawasan pemukiman ini berlokasi di belakang Jalan Pangeran Samudera. Api mula-mula berasal dari kelenteng (rumah ibadah) Cina, yang segera menjalar ke rumah-rumah yang terletak di belakangnya. Api bahkan menjaalr ke asrama POM ABRI yang hanya terpisah oleh sungai selebar 3 meter dari Kertak Baru Ulu.

Sementara di tempat lain yakni di Jalan Veteran dan Jalan Lambung Mangkurat, pada waktu yang sama, sebanyak enam gereja dan satu tempat ibadat Konghucu (Klenteng) ikut dihancurkan. Rumah-rumah WNI keturunan Cina juga ikut dilempari batu. Bahkan ada keluarga yang akan menyelamatkan diri, setelah mobil penjemput datang, mobil tersebut dihancurkan kacanya. Terpaksa pemiliknya lari menjauh dari situ.
Juga ikut "digasak" massa adalah rumah bos klub sepakbola Barito Putra yang juga calon legislatif dari Golkar. Rumah itu disatroni massa dan dirusak. Kompleks Pamen ABRI pun ikut rusak -- barangkali karena penghuninya banyak yang menjadi calon legislatif Golkar.
Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak kembali ke arah DPD I Golkar. Tapi tidak langsung ke sana. Mereka mampir kembali di Jujung Buih Plaza. Genset Jujung Buih Plaza dibakar dan gedung 8 lantai tersebut akhirnya terbakar. Di sebuah hotel di gedung itu, Hotel Kalimantan, banyak artis yang mengikuti kampanye menginap, termasuk jurkamnya. Di hotel tersebut juga menginap Ketua Umum MUI Pusat KH Hasan Basri yang ikut rombongan kampanye. Disitu juga ada Gubernur Kalimantan Selatan dan Muspida. Tapi akhirnya mereka dapat diselamatkan. Namun tidak diketahui apakah di sana juga jatuh korban. Yang jelas, saat dilakukan penyelamatan banyak yang jatuh pingsan. Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman sendiri merasa sangat kaget dan seolah tidak percaya melihat ulah massa yang begitu brutal.

Karena massa terus mengamuk, pemadaman pun tidak berlanjut. Yang menyiram air kemudian lari dari kepungan massa. Banyak tabung gas meledak. Setelah disiram air, kemudian ditinggal lari menghindari amukan massa. Sejumlah sepeda motor tidak dapat diselamatkan dan ikut dilalap si jago merah.
Mulai sekitar pukul 18.00, bagian belakang gedung Anjung Surung mulai mengepulkan asap. Api membakar habis apotik Kasio yang terletak di belakang gedung ini. Barisan Pemadam Kebakaran tidak berdaya, karena mass amencegah dan mengancam mereka supaya tidak memadamkan api.
Namun secara ajaib, ketika seluruh api menelan gedung-gedung di sekitarnya, gedung Anjung Surung selamat. Petugas UGD RS Islam menyebutkan, hingga pukul 17.30 rumah sakit tersebut merawat 12 orang korban. Delapan di antaranya menderita luka bacok, empat sisanta akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara RS Ulin menyeburkan, sedikitnya mereka merawat 20 orang pasien, termasuk Didik Triomarsidi, juru foto Banjarmasin Post. Didik dianiaya massa ketika meliput penghancuran gedung markas DPD Golkar.
Saat itu, orang-orang dari berbagai kampungpun mulai gelisah dan mulai melakukan pengamanan masing-masing. Mereka semua keluar rumah, menjaga setiap gang dan jalan-jalan masuk. Lengkap dengan senjata tajam, berupa mandau, samurai, dan clurit. Penjagaan dilakukan semalam suntuk, karena mereka mendengar isyu yang mengatakan bahwa Golkar akan mengadakan serangan balasan.

Pukul 20.30 Wita, massa beramai-ramai ke arah Supermarket Mitra, yang merupakan pusat pertokoan terbesar di Banjarmasin. Letaknya di Jalan Sumatra. Di gedung berlantai empat ini banyak terdapat toko-toko elektronik, komputer, diskotik, ruang pertemuan, show-room mobil mewah, toko buku Gramedia, KFC, Bioskop 21, dan sarana hiburan anak-anak. Massa berhasil masuk dengan menorobos blokade keamanan. Isi gedung dijarah dan dibawa lari. Gedung itu sendiri telah terbakar sekitar pukul 20.00 Wita, dan api menyala sampai pukul 09.00 keesokan harinya.

Massa terus mengamuk dan mengobrak-abrik isi gedung. Pada saat itu tersiar khabar bahwa pasukan keamanan diperbolehkan untuk menangkap dan menembak di tempat. Tapi pasukan keamanan tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, massa yang lengkap dengan berbagai senjata tajam itu terus mengamuk. Pukul 22.00 Wita, 1000 orang pasukan bantuan datang dengan tiga pesawat hercules. Menurut laporan LBHN Banjarmasin itu, tidak diketahui dari mana mereka didatangkan. Pasukan kemudian bergerak mendekati Gedung Mitra Plaza. Mereka menghalau massa yang masih ada di gedung itu. Senjata menyalak. Namun pihak LBHN Banjarmasin tidak memperoleh informasi berapa korban yang jatuh di sana.
Pada malam harinya, jumlah gerombolan massa menyusut. Listrik masih padam dan seluruh kota dalam keadaan tetap gelap gulita, hanya diterangi kobaran api di mana-mana. Beberapa tempat diblokade petugas keamanan, namun gerombolan massa masih berkerumun di beberapa tempat. Mereka memasuki kawasan pemukiman, menyerang dengan clurit, klewang, Mandau, samurai, dan berbagai senjata lain. Beberapa rumah, kantor dan warung yang berdekatan dengan Banjarmasin Post masih menyala terbakar. Benar-benar mirip lautan api. Laporan awal menyebut, secara keseluruhan ratusan rumah dan toko hancur, sebuah gereja Katolik, sebuah bank, dan sebuah hotel ikut hancur. Sekitar 80 orang diberitakan luka-luka dan 50 orang ditahan.

Kemudian, sekitar pukul 23.00 Wita, massa menuju ke arah luar kota. Sasarannya adalah rumah-rumah calon legislatif Golkar. Karena terbetik khabar massa membawa formulir berisi Daftar Calon Tetap (DCT) Golkar. Ada empat rumah yang dibakar walau belum jelas apakah itu rumah caleg Golkar atau bukan. Juga menjadi sasaran adalah toko-toko Cina sepanjangan jalan, ikut dihancurkan dengan lemparan batu. Hampir semua toko di sepanjang Jalan A. Yani rusak berat dan api membumbung tinggi. Saat itu pasukan pun tidak lagi diam. Mereka mulai mengejar-ngejar massa.
Yang sangat tragis, sekitar pukul 24.00 Wita, seorang warga yang keluar rumah untuk melihat keadaan kelihatan tergeletak tertembak peluru. Meski begitu, masih menurut laporan Tim LBHN Banjarmasin, suasana di jalan-jalan masih ramai. Banyak orang yang sudah terlanjur keluar sulit pulang lagi ke rumahnya masing-masing. Karena jalan-jalan sudah diblokir oleh orang-orang kampung. Yang bukan warganya tidak diperbolehkan masuk dan melewati jalan tersebut.

Namun sekitar pukul 01.00 Wita dini hari (Sabtu, 24 Mei), massa bergerak ke luar kota. Karena semua jalan sudah diblokir oleh pihak keamanan. Suasana semakin tegang. Khususnya di pusat kota, semua listrik padam dan baru menyala pukul 09.30 pagi.
Kemudian pasukan keamanan, sekitar pukul 03.00 Wita, mengobrak-abrik Kampung Kelayan. Kampung ini merupakan kampung terpadat dan dikenal banyak preman. Ada 195 orang yang diamankan di kantor Polresta. Kondisi mereka babak belur dan hampir semua menjadi sulit untuk dikenali wajahnya. Sekitar pukul 04.00 Wita, masyarakat perumahan Beruntung Jaya yang semalam suntuk berjaga terus karena ada isyu akan diserang, bertahan masuk ke rumah, saat ada suara pasukan datang. Tak jelas berapa orang ditahan dari sana. Pukul 06.00 Wita, aparat keamanan, lebih kurang 5 truk, datang ke kampung Teluk Tiram. Di kampung itu, mereka memburu massa yang diperkirakan ada di kampung tersebut. Mereka dengan senjata lengkap di tangan berjaga-jaga terus di jalan-jalan utama. Setiap orang lewat yang kelihatan mencurigakan digeledah. Bahkan, yang terlihat menggunakan pakaian agak kumuh langsung dihentikan.

HIngga keesokan harinya, sabtu pagi, api masih menyala di kompleks Plaza Mitra. Seluruh lantai gedung tersebut masih belum bisa dimasuki. Tetapi bau sangit dan busuk menyengat hingga ke luar ruangan. Regu penyelamat belum bisa bertindak apa-apa karena gedung masih diselimuti api dan asap. Evakuasi baru bisa dilakukan sore hari ketika sebagian api sudah padama. Kapolda Kalsel memberikan laporan kepada Kapolri mengenai kemungkinan terdapatnya sejumlah mayat yang terbakar hangus di dalam kompleks pertokoan. Para pejabat daru Jakarta yang sedianya berkampanye, diterbangkan kembali dari Banjarmasin. Mereka termasuk Mensekkab Saadilah Mursyid dan KH Hasan Basri. Pangdan Tanjungpura Mayjen Namoeri Anoem mengumumkan berlakunya jalan malam di Banjarmasin, mulai pukul 8 malam hingga 5 pagi, selama lima hari massa cooling off kampanye, 24-29 Mei 1997.

Selain itu, ratusan penduduk tewas dan luka parah, belum termasuk yang lika-luka ringan. Jumlah korban jiwa 142 orang. Jumlah angka korban ini bervariasi dan tidak sama. Pengumuman pertama mengenai jumlah tumpukan korban itu, dalam laporan Letkol (Pol) Friedy Tjiptoadi, Kapolres Banjarmasin, kepada Kol. (Pol) Sanimbar Kapolda Kalimantan Selatan, menyebut angka 60 orang. Sehari kemudian, angka itu menjadi 133 orang. Pangdam Mayjen Namoeri Anoem menyatakan, 187 orang ditahan sehubungan dengan kerusuhaan Jumat Membara. Polisi mengumumkan, 118 orang dibawa ke rumah sakit, banyak di antaranya dalam kondisi luka parah. Brigjen (Pol) Nurfaizi, Kadispen Polri, menyatakan, data terakhir menunjukkah 142 orang tewas, dengan rincian 140 tewas terbakar di Plaza Mitra, dan dua orang tewas di pusat perbelanjaan Lima Cahaya. Masih dalam pengumuman resmi ini, 118 orang luka-luka, ditambah 5 anggota ABRI. Tim Pencari Fakta YLBHI mencatat 123 korban tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Menurut Komnas HAM, laporan mengenai angka yang hilang sebanyak 199 orang, tetapi kemudian dua orang sudah kembali, sehingga jumlah orang hilang sebanyak 197. Jika angka orang hilang ini dianggap sebagai tewas (yang sangat besar kemungkinannya), maka perkiraan korban tewas antara 302 hingga 320 orang. Korban tewas di Plaza Mitra dikunjungi tim pencari fakta Komnas HAM pada 31 Mei 1997. Dua jam kemudian, 120 di antaranya dikuburkan secara massal dengan tata cara Islam di kompleks pemakaman Landasan Ulin Tengah, kecamatan Landasan Ulin, Kota Administratif (sekarang kota otonom) Banjarbaru, yang terletak 22 kilometer sebelah tenggara Banjarmasin. Tiga korban lain sudah diambil keluarga mereka dan dikuburkan tersendiri. Komnas HAM melaporkan, tidak ada bukti telah digunakannya peluru tajam yang menyebabkan tewasnya korban kerusuhan. Dalam laporannya, Komnas HAM juga menyatakan, dalam memadamkan kerusuhan, aparat keamanan tidak menggunakan alat-alat yang mematikan, tetapi menggunakan letusan peringatan, granat asap dan gas air mata.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan_Banjarmasin

Hasanuddin HM, Pahlawan Ampera Banjarmasin

Posted: Kamis, 29 Desember 2011 by Rusman Effendi in
2





Tak Ada Pilihan Lain, Menjadi
Bangsa Indonesia atau Bangsa Asing

(Banjarmasin, 10 Pebruari 1966)
 
AKSI tiga tuntutan rakyat atau Tritura, memang sebulan lebih lambat terjadinya dari Jakarta. Namun cerita heroisme kaum muda terutama mahasiswa dan pelajar, juga terjadi di Banjarmasin pada Pebruari tahun 1966. Dan inilah demonstrasi terbesar  Banua yang terjadi pada masa rezim orde lama Presiden Soekarno.
        
Secara umum ada 3 tuntutan yang diperjuangkan. Pertama; turunkan harga barang. Kedua; Bubarkan PKI. Dan ketiga;  bersihkan kabinet dari antek-antek komunis. Secara khusus di Banjarmasin, justru ada 2 tuntutan tambahan yakni stabilkan harga dan adili para tengkulak (cukong sembako).

        Mengapa? “Karena saat itu perekonomian di Banjarmasin sangat menyedihkan. Di mana-mana orang antre beli beras, gula dan minyak tanah. Harga sembako pagi sekian, sorenya bisa naik 300 persen. Bahkan tingkat inflasi sangat tinggi mencapai 600 persen, “ papar Yusriansyah Aziz, eskponen 66 --sekarang ekonom Unlam.

        Lumpuhnya sektor perekonomian, merembet ke situasi politik yang disusupi Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (PKI) di Banjarmasin.  Sejumlah pentolan aktivis 66, melihat indikasi ini terekam dari Siaran Radio Swasta Viking Hsinhua di Pecinan (sekarang Jl.Pierre Tendean-seberang Siring Sabilal).

        “Hampir setiap hari, radio ini menyuarakan cerita propaganda dengan paham komunis. Di malam hari, mereka kerap menggelar pertunjukkan teater dan nyanyian-nyanyian untuk menghimpun massa,” kata Yusriansyah Aziz, dosen ekonomi Unlam.

        Kebijakan pemerintah yang mendua dengan melegalitaskan, status kewarnegaraan Indonesia dan Cina kala itu, juga mengumbar kecemburuan warga sipil. Kecurigaan aktivis angkatan 66 Banjarmasin pun memuncak terhadap eksistensi Gerakan 30 S/PKI di Banua, setelah Ketua Partai Komunis wilayah Kalsel, Aman Hanafiah mendesak Panglima Amir Mahmud, agar masuk Dewan Revolusi, bentukan Kolonel Untung.

        Di internal Kampus Unlam, keberadaan organisasi mahasiswa juga “diadu-asah.” Dari isu aktivis KAMI yang dituding anti revolusi, hingga penolakan mahasiswa terhadap Gerakan Komunis yang tidak disambut baik pemerintah. Akumulasi rentetan peristiwa ini, membuat mahasiswa dan pelajar tak ada pilihan selain turun ke jalan.
        10 Pebruari 1966, seluruh kekuatan rakyat di Banjarmasin berkumpul di lapangan kantor gubernur –sekarang kawasan Sabilal Muhtadin. “Jumlahnya ada sekitar 15 ribuan orang saat itu. Mereka berasal dari sekitar 16 organisasi mahasiswa, pelajar dan kemasyarakatan, kecuali GMNI yang tidak ikut,” kata Yusriansyah Aziz, salah satu aktor demonstran. (*)

SEHARI sebelum demo digelar, Hasanuddin Bin Haji Madjedi, begitu gembira mendengar senior-seniornya seperti Mas Abi Karsa, Gusti Rusdi Effendi, Yusriansyah Aziz, Djok Mentaya dan lainnya akan bertolak menggelar demonstrasi. 
        Di rumahnya di Jalan Batu Piring, nomor 21 Banjarmasin, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unlam tingkat persiapan ini, meminta izin kepada sang ayah Haji Madjedi, seorang pegawai kantor gubernur.   
        “Bah…hari ini ulun handak umpat demo. Mun sudah demo ni bah…harga baras wan gula turunan,” kata Hasanuddin HM, kutip kakaknya Hj. Siti Rubiah. Entah membuang perangai atau saking semangatnya, sebelum turun dari rumah berkali-kali Asan –biasa dipanggil—bercermin dan membenarkan sisiran rambutnya.
        Selesai urusan bercermin, Asan pun siap berangkat dengan mengenakan baju baru warna krim muda hasil pemberian kakaknya Hj. Siti Rubiah. “Aku ingat banar, waktu itu kain tetoron masih langka di Banjarmasin. Jadi Asan kubuatkan baju hanyar dan dipakainya waktu handak demo,” jelasnya.  
        Setelah merasa mantap, pemuda kelahiran Desember 1945 siap berangkat. Lagi-lagi sang kakak merasa ada firasat kurang baik menjelang keberangkatannya. Ketika ingin menaiki sepeda ontelnya, tiba-tiba per (pegas) dudukan sadel sepedanya patah.
        “Asan bebulik ke dalam rumah, bepada wan Abah mun per dudukan sepedanya patah. Tapi abah menyahuti, kira-kira sudah jabuk  jua kalo nak. Kena ai diganti,” kisah Siti Rubiah.  
        Putra pasangan H. Madjedi dan Hj. Sahrul Bariah ini, akhirnya berangkat juga menuju Kampus Unlam di Jalan Lambung Mangkurat (sekarang Kantor Bank Mandiri) bersama kakaknya yang lain. Sebelum bergabung bersama ribuan mahasiswa lainnya untuk menggelar aksi demonstrasi. (*)

PAGI 10 Pebruari 1966, Hasanuddin Haji Madjedi dengan bersemangat menggenjot sepeda ontelnya bersama kakak perempuannya, menuju Kampus Unlam (kini Bank Mandiri) di Jalan Lambung Mangkurat. Sesampainya di sana, sudah ribuan mahasiswa baru (tingkat persiapan) dan para seniornya berkumpul
Penanda mereka mahasiswa baru, terlihat dari peci (mirip angkatan laut) yang dikenakan dan logo Unlam di sisi kanan peci, pengganti baju almamater. Barisan mahasiswa yang dikomandani aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), akhirnya membaur bersama sekitar 15 ribu demonstran untuk mengikuti apel siaga di lapangan terbuka (sekarang halaman Sabilal Muhtadin
Dalam apel siaga, pendemo menyampaikan tuntutannya kepada Gubernur Kalsel H.Aberani Sulaiman, Rektor Unlam Milono dan disaksikan Kasdam Kolonel Sutopo Yuwono. Usai menyampaikan aspirasinya, aksi demonstrasi dilanjutkan ke Kantor Konsulat Republik Rakjat Tjina (RRT) –-sekarang Kantor Ajenrem-- di Jalan Pierre Tendean, Banjarmasin

Mengapa Konsulat RRT yang menjadi sasaran mahasiswa? “Karena sebelum demonstrasi, mereka diduga menjadi beking tengkulak sembako sehingga harga barang naik tinggi. Selain itu mereka diduga terlibat gerakan komunis karena hampir setiap hari, siaran radio mereka Viking Hsinhua menyiarkan tentang paham komunis,” papar Yusriansyah Azis, mantan demonstran

Sesampainya di kantor konsulat, aksi diwarnai kericuhan. Pemicunya upaya mahasiswa menyampaikan aspirasi ditolak petugas konsulat.Kedatanga ribuan massa yang marah disambut petugas keamanan dengan semprotan pemadam. Suasana kian mencekam, setelah terdengar suara rentetan tembakan dan hujan deras mengguyur

Sejumlah demonstran jatuh pingsan dan sebagian lagi menjadi korban pemukulan. “Akhirnya surat pernyataan sikap, bisa kami sampaikan setelah Abi Karsa kami dorong pantatnya ke atas pagar dan melemparkan surat tuntutan kami,” jelas Yusriansyah Azis, anggota Predisium KAMI Komisariat Unlam 1966

Aksi demonstrasi pun bubar. Sebagian mahasiswa masih melanjutkan aksi, sedangkan para pelajar dianjurkan pulang. Saat bubar, arus massa terpecah menjadi dua bagian. Satu kelompok menuju Kampus Unlam di Jalan Lambung Mangkurat dan sebagian lagi melewati Jembatan Dewi menuju Pasar Baru
Hasanuddin Haji Madjedi, yang turut dalam aksi menjadi aktor penting sebagai pengusung spanduk bertuliskan,” Tak Ada Pilihan Lain, Menjadi Bangsa Indonesia atau Bangsa Asing.” Tak puas beraksi di depan Kantor Konsulat RRT, rombongannya melakukan longmarch dari Pecinan (Jl. Pierre Tendean) menuju Pasar Sudimampir dan Pasar Baru

Setibanya di pertigaan pasar, teriakan tuntutan penurunan harga barang dan pembubaran PKI semakin kecang dan garang disuarakan mahasiswa. Tepat di pertigaan depan Toko Roti Minseng, kerumunan ribuan massa kian banyak.
Kehadiran mereka, rupanya dianggap mengganggu stabilitas pasukan BKO dari Batalyon K Jawa Tengah yang sedang berjaga-jaga

Di saat situasi kian tegang, suara tembakan terdengar dari ketinggian bangunan. Dalam waktu bersamaan, Hasanuddin, HM yang mengusung spanduk, tiba-tiba tersungkur bersimbah darah. Teriakan dan pekikan takbir bergema. Sang demonstran berusia 19 tahun ini pun digotong rekan-rekannya ke Klinik Kesehatan Muhammadiyah

Lubang menganga dari samping, ternyata menembus pinggang belakangnya. Nyawa Hasanuddin, HM tak tertolong lagi dan dipastikan meninggal. Jasad korban akhirnya dibawa lagi ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin

“Kami mendapat kabar siang hari. Mama sudah terabah dan abah dipapah walikota dan pejabat yang datang ke rumah sakit. Kami kada mengira, kenapa inya sampai meninggalkan kami. Padahal Asan ini paling disayang Mama wan Abah,” aku Siti Rubiah, kakak Hasanuddin, HM

Perjuangan mahasiswa Unlam tingkat persiapan ini, akhirnya dinobatkan sebagai Pahlawan Amanat Pembelaan Rakyat (AMPERA) dari Banjarmasin. Melengkapi predikat serupa yang disandang Arif Rahman Hakim dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Bahkan jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan, berdampingan dengan Pangeran Antasari

Sumber Photo Makam : Yudi Yusmili



Letnan Udara Sjamsudin Noor

Posted: Senin, 26 Desember 2011 by Rusman Effendi in
1







Letnan Udara Sjamsudin Noor, Perjuangannya dan Nama Bandara
Muhammad Sjamsudin Noor nama lengkapnya
Dia dijuluki pelopor Airways Indonesia
Anak Desa yang Lahir di Alabio, Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel
Gugur di usia muda sebagai pejuang TNI Angkatan Udara

Tidak banyak anak muda yang memilih menjadi penerbang pesawat tempur sebagai profesi di jaman masih sekarat tahun 1940-an. Dari yang sedikit, nama Muhammad Sjamsudin Noor terpatri dengan indah. Lahir di Alabio, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel tanggal 5 November 1924, Muhammad Sjamsudin Noor besar di lingkungan keluarga yang taat beragama.

Ayahnya H.Abdul Gaffar Noor dikenal sebagai salah satu ulama di Alabio pada tahuan 1900-an. Ibunya Hj. Putri Ratna Willis, juga aktif dikegiatan keagamaan. Ketokohan keduanya, mengantarkan mereka sebagai sosok yang aktif di pergerakan dan organisasi perjuangan. Tahun 1940-an di masa transisi terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), H. Abdul Gaffar Noor, dipercaya sebagai Kepala Federasi Kalimantan Tenggara.

“Ayah beliau (Sjamsudin Noor) tokoh ulama di Kalsel yang juga pernah menjabat Kepala Federasi Kalimantan,” jelas Letkol Pnb, M. Mukson, Danlanud Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Jabatan publik yang di emban sang ayah, membuat Sjamsudin Noor menghabiskan waktu jauh dari kampung halamannya yang dikenal sebagai sentra perternakan itik terbesar. Di usia 8 tahun, jenjang pendidikan dimulai di HIS Batavia Jakarta. Setelah lulus tahun 1939, melanjutkan sekolah di MULO Bogor, Jawa Barat.

Usai mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sejak tahun 1942 hingga 1945, Sjamsudin Noor melanjutkan pendidikannya di AMS Jogjakarta. Kondisi Negara yang masih dalam tekanan penjajah, membuatnya terpanggil dengan masuk Akademi Militer di Jogjakarta. Setahun di Akademi Militer, dia memperdalam ilmunya dengan masuk Sekolah Kejuruan Penerbang.

Prestasi yang bagus, mengantarkan Sjamsudin Noor terpilih mengikuti program Pendidikan dan Latihan Penerbang di India dan Burma. Dari sinilah ilmu profesional sebagai penerbang pesawat tempur dan pesawat angkut dicapai. Tiga tahun menimba ilmu, Sjamsudin Noor langsung dipercaya menjadi pilot pesawat penerbangan Indonesia Airways.

Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Tahun 1950, sepulang dari Burma, Sjamsudin Noor yang berpangkat Letnan Udara Satu, dipercaya menerbangkan pesawat tempur Dakota 446 milik TNI Angkatan Udara. Sejak itu, secara resmi Sjamsudin Noor dipercaya memiloti pesawat tempur untuk membela Negara.

Minggu, tanggal 26 November 1950, sekitar pukul 17.00 WITA. Sjamsudin Noor menjalankan tugas negara menerbangkan pesawat Dakota dari Lapangan Andir Bandung (sekarang Bandara Husin Sastranegara) menuju landasan pacu Tasikmalaya Jawa Barat. Di perjalanan, badai dan memburuknya cuaca menjadi kendala. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya mesin pesawat, membuat Dakota kehilangan kendali. Pesawat pun jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, sekitar 15 Kilometer dari Malang Bong, Kecamatan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Angkatan Udara Indonesia berduka. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun anak banua ini, dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways. Prosesi pemakamannya dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, pada tanggal 26 November 1950. Diikuti tembakan salvo ke udara, TNI AU kehilangan salah satu penerbang muda terbaik bangsa.

Guna mengenang jasa perjuangannya, tanggal 13 Januari 1970 melalui peran DPRD Kalsel, Pemerintah Daerah dan Pimpinan Pangkalan Udara mengusulkan agar Lapangan Udara Ulin diganti menjadi Pangkalan Udara Sjamsudin Noor. “Atas peran dan jasa-jasanya terhadap negara, makanya bandara ini dinamakan Lanud Syamsudin Noor,” tegas Letkol Pnb M.Mukson, Danlanud Syamsudin N0or Banjarmasin.

Dipilihnya Sjamsudin Noor sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud), juga melalui proses panjang. Setidaknya ada 3 pilihan nama pahlawan baik sipil maupun militer yang diusulkan kala itu. Masing-masing Komodor Udara Supadio, Pangeran Antasari dan Sjamsudin Noor sendiri. Melalui SK DPRD Kalsel, diputuskan nama Sjamsudin Noor menggantikan Lanud Ulin pemberian nama dari Belanda dan Jepang. ***

(Disarikan dari Liputan Program Dokumenter Duta TV Banjarmasin ; Pian Tahulah)

sumber : http://syarifuddin-ardasa.blogspot.com/2011/12/penerbang-yang-mati-muda.html

Mesjid Jami Sungai Banar Amuntai

Posted: Minggu, 25 Desember 2011 by Rusman Effendi in
2


Masjid tertua di Amuntai ini sudah berusia 204 tahun. Banyak kejadian aneh sejak awal berdirinya. Bahkan ada cerita, bagi mereka yang ingin pergi haji sebaiknya datang terlebih dahulu ke masjid ini. Dalam serangkaian jelajah ke Kalimantan, Misteri menyempatkan diri berziarah ke masjid bersejarah ini. Terlebih lagi setelah sebelumnya Misteri mendengar kisah-kisah gaib seputar masjid keramat ini.
Misteri tiba sekitar pukul 16.00 sore, pada bulan Juni 2006 lalu. Setelah menyempatkan shalat Ashar berjamaah bersama takmir masjid, Ustadz H. Husaini, Misteri menyusuri sejarah masjid berkaromah ini. Berikut laporannya.
Masjid Jami Sungai Banar terletak di tepi Sungai Banar, sekitar 3 km dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tepatnya, di perbatasan Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung (sebelumnya masuk Desa Ilir Masjid).
Masjid pertama di Amuntai ini berdiri pada tahun 1804 M (1218 H). Terdokumentasi dalam catatan pahatan pada bedug yang masih dimanfaatkan.
Dikisahkan, sejumlah warga Amuntai yang sedang berguru kepada Waliyullah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812M) di Martapura, menerima saran dari Syekh agar dibangun sebuah masjid di wilayah Amuntai. Kebetulan saat itu memang belum ada masjid. Selain itu Sang Wali juga memberikan sebuah Kitab Suci Al Qur’an tulisan tangan.

Peristiwa Aneh
Bak gayung bersambut, saran itupun disambut hangat warga Amuntai. Secara bersama, masyarakat mempersiapkan pembangunan masjid, seperti batu-batu, kayu, sirap,dll. Hingga kini, bahan baku masjid seperti kayu ulin, tiang, balok, papan dan sirap masih dapat disaksikan di sekitar masjid. Lokasi pertama yang dipilih sekitar 500 meter dari lokasi masjid yang sekarang.
Keanehan terjadi menjelang pemasangan tiang masjid (batajak tiang-bahasa Banjar). Mendadak masyarakat terkejut melihat sejumlah tiang besar yang terbuat dari kayu ulin itu hilang dari tempat pembuatannya. Setelah dilakukan pencarian, tiang-tiang itu ditemukan di tepi sungai di lokasi yang sekarang. Ketika itu, sungainya belum ada namanya.
Tentu saja kegaduhan muncul mengenai siapa yang memindahkan tiang-tiang yang memiliki bobot beberapa ton itu. Untuk mengangkat satu tiang saja dibutuhkan puluhan orang, apalagi lebih dari satu tiang. Padahal malam sebelumnya, masyarakat masih melihat tiang-tiang tersebut.
Keanehan itu pada akhirnya dipandang sebagai sebuah isyarat gaib bahwa lokasi masjid haruslah di tempat tiang-tiang itu berada sekarang. Maka dimulailah pembangunan masjid tersebut. Di kemudian hari tiang-tiang masjid tersebut ada yang mengeramatkan.
Bangunan asli masjid berukuran 25 x 20 meter. Berbentuk mirip Rumah Adat Banjar (panggung), memakai tiang dan bertingkat. Bahan-bahan rangka, lantai dan dinding papan dari kayu ulin dengan bagian atap dari sirap yang tinggi. Ketika itu belum dibuat menara.
Sedangkan mimbar khotbah merupakan wakaf pribadi H. Mahmud yang ukirannya dikerjakan 2 orang ahli ukir pada masa itu, yaitu Buha dan Thahir. Mimbar itu terbuat dari kayu ulin, berukuran 3,8 m x 1 m dengan total tinggi 4,5 meter terdiri dari badan 2 meter dan menara 2,5 meter. Usai masjid dibangun, terjadi lagi peristiwa aneh.
Pria Misterius
Ketika itu masyarakat bersyukur menyaksikan jerih payahnya rampung. Merekapun bermusyawarah menentukan nama terbaik buat masjidnya itu. Tetapi belum ada keputusan yang diambil.
Tiba-tiba datanglah sebuah perahu yang merapat di tepi sungai dekat masjid. Penumpang perahu yang tampak seperti pedagang itupun turun dan meminta izin masyarakat untuk menunaikan shalat. Karena kebetulan bertepatan tibanya dengan waktu shalat. Tentu saja masyarakat merasa senang, karena orang itu merupakan jamaah shalat yang pertama dari daerah lain.
Setelah shalat, orang itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tetapi masyarakat terkejut melihat sebuah kantong berisi uang (kadut duit-bahasa Banjar) tertinggal di tepi sungai dekat perahu tadi bersandar. Merekapun sepakat untuk menyimpannya kalau-kalau orang itu kembali. Apalagi setelah diingatnya orang itu berperilaku baik dan alim.
Benar saja, beberapa hari kemudian orang itu datang lagi. Masyarakat pun kembali bergembira melihat si pemilik kantong berisi uang yang cukup banyak itu. Mereka bukan saja menyerahkan hak orang itu, melainkan juga menjamunya makan.
Pada waktu itulah, orang yang tidak diketahui jatidirinya itu berkata, “Urang-urang sini banar-banar kadada nang culasnya (orang-orang di sini semuanya jujur, tidak ada yang culas atau curang-demikian terjemahan dari bahasa Banjar)”.
Kemudian orang itu bertanya seputar nama sungai tempat perahunya ditambat dan juga nama masjid yang baru dibangun itu. Masyarakat serentak menggelengkan kepalanya. Baik sungai atau masjid memang belum ada namanya.
Orang itupun tersenyum sambil berkata,” Bagaimana kalau sungai itu diberi nama Sungai Banar dan masjidnya diberi nama Masigit (masjid) Sungai Banar?”
Serentak masyarakat bertakbir memuji kebesaran Allah SWT. Kebuntuan masyarakat menamai masjid pun terpecahkan. Setelah itu, pria itupun pergi. Tetapi siapakah pria misterius itu? Tidak seorangpun mengetahui asal usulnya.
Hingga kini masyarakat meyakini pria misterius itu tergolong Waliyullah. Sebagai buktinya, pernah ada upaya penggantian nama masjid telah berulangkali dilakukan, tetapi masyarakat tetap tidak bisa menerima. Upaya penggantian pernah terjadi tahun 1990. Nama masjid diganti menjadi Masjid Baiturrahman. Nama baru ini bahkan disahkan dalam sertifikat di Kantor Pertanahan Hulu Sungai Utara. Pada tahun 2000, muncul nama baru: Masjid Istiqomah. Nama inipun tercantum dalam Skep Kakanwil Depag Kalsel tentang Penetapan Nomor Induk Masjid, dengan nomor urut: 1764090/61916.
Tetapi nama-nama baru itu sangat tidak populer dan hampir tidak pernah disebut masyarakat, kecuali nama Masjid Sungai Banar. Belakangan nama masjid ditambah menjadi Masjid Jami Sungai Banar untuk menunjukkan sebagai masjid besar dan bersejarah.

Tokoh-tokoh ulama
Berdirinya Masjid Jami Sungai Banar menyemarakkan kehidupan beragama masyarakat Amuntai dan sekitarnya. Bahkan ada yang datang dari wilayah lain untuk belajar dan menuntut ilmu. Keberadaannya dapat dikatakan sebagai pusat pengembangan Agama Islam waktu itu.
Tercatat beberapa ulama besar yang pernah mengisi taklimnya di masjid ini, seperti: Tuan Guru H. Abdul Qodir (lahir thn.1830M ), Tuan Guru H. Ahmad bin H. Abdul Qadir (lahir 1860-1944), Tuan Guru H. Ahmad Khatib bin H.Muhammad Arif (1866-1956), Tuan Guru H, Abdul Hamid bin H. Matsaleh (1870-1940), Tuan Guru H.Abdul Hamid bin H. Jamaluddin (1896-1951, beliau wafat di Makkah), dll.
Para ulama besar itu umumnya juga pernah menimba ilmu di Makkah. Sebagai contoh, Tuan Guru H. Ahmad sempat mukim di Makkah selama 40 tahun. Salah seorang murid beliau yang bernama Tuan Guru H.Abdul Rasyid (1884-1934) dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Pakapuran Amuntai. Murid beliau yang juga terkenal adalah H.Ahmad Hasan Qadi dan H.M. Jannawi Amuntai, H.Jamaluddin dari Negara, H.M. Nawawi, H.Mukeri dari Birayang dan H. Zamzam dari Barabai.
Begitupula dengan Tuan Guru H.Abdul Hamid yang pernah mengajar di Makkah dengan murid antara lain K.H Abdul Karim Al Banjari Kandangan dan K.H Mahfudz Amin (pendiri Ponpes Ibnu Amin Pamangkih Barabai).

Pasukan Gaib
Bagi masyarakat Amuntai, para ulama besar itu selain dikenal dengan kedalaman ilmunya, juga karena karomahnya. Cerita seputar keramat para ulama itu masih dipercaya hingga kini. Diantaranya cerita karomah Tuan Guru H. Abdul Hamid yang tubuhnya terangkat seperti terbang saat sedang itikaf di bulan Ramadhan.
Terlebih lagi, saat perang kemerdekaan masjid ini pernah dijadikan semacam markas untuk mengatur strategi perang. Ketika itu, sekelompok orang yang dijuluki Pasukan Gaib dikenal memiliki ilmu daya linuwih yang mampu mengalahkan musuh berkekuatan besar. Penjajah bahkan tidak pernah bisa mengenali atau mendeteksi kehadiran mereka. Sepintas mereka layaknya santri biasa, mengaji Kitab Kuning. Padahal mereka juga digembleng ilmu-ilmu kadigjayaan agar siap menjadi Pasukan Gaib.
Dikisahkan, suatu ketika Pasukan Gaib yang dipimpin Mat’ali bersama wakilnya Itar dan sekitar 70 orang berniat menyerang markas Belanda. Sebelum berangkat mereka mengambil kain putih yang biasa dipakai Khatib Jumat. Mereka lalu menyobek kain itu menjadi dua. Sebuah diikatkan did kepala, yang lain diikatkan di pinggang. Sedangkan tongkat Khatib dijadikan tiang bendera pasukan sekaligus juga tombak.
Mereka pun menyerbu sarang musuh dan memperoleh kemenangan mutlak tanpa ada korban dipihak Pasukan Gaib. Sebagian musuh kabur ke daerah lain. Kisah ini sangat terkenal, terutama menyangkut kekuatan gaib yang dimiliki pasukan itu. Tetapi sayangnya, Misteri tidak berhasil melacak jejak ilmu kadigjayaan Pasukan Gaib.

Tiang Perdamaian
Dalam pada itu, Misteri mendengar pula beberapa kisah lain yang tergolong unik seputar masjid yang juga merupakan cagar budaya ini.
Pada zaman dulu, apabila terjadi pertikaian antar suku, maka mereka melakukan pembicaraan damai di masjid ini. Sebagaimana diungkapkan Ruben, warga suku Dayak Kenyah yang tinggal di wilayah Muara Kate, Tabalong.
Menurutnya, cerita seputar karomah masjid itu didapatnya dari orang-orang tua dulu. Dia menceritakan, pernah ada pertikaan warga. Maka diantara mereka yang bertikai itu kemudian mengambil inisiatif untuk mengadakan perjanjian damai di Masjid Jami. Padahal lokasi pertikaan itu sendiri jauh dari wilayah Amuntai. Terkadang yang bertikai pun berlainan keyakinan dengan ulama.
Ketika itu ulama-ulama besar memiliki kharisma yang diyakini mampu mengakhiri pertikaian. Konon mereka yang bertikai itu melakukan perdamaian di dekat salah satu tiang masjid. Hingga kini, ada sebagian orang yang mengeramatkan tiang perdamaian tersebut.
Misteri terkejut juga mendengarnya. Tapi begitulah sebuah kisah tutur turun-temurun yang masih hidup. Uniknya lagi, tiang yang dikeramatkan itupun tidak semua orang mengetahuinya.

Naik haji ke Masjid Jami Sungai Banar
Keyakinan sebagian orang terhadap karomah masjid ini, setidaknya dibuktikan sejumlah mahasiswa IAIN Banjarmasin yang melakukan penelitian seputar maksud tujuan orang berkunjung atau berziarah ke Masjid Jami. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada juga dari Negara tetangga.
Banyak diantara peziarah yang datang bermaksud melakukan tirakat untuk suatu hajat tertentu. Pada saat tirakat mereka biasanya juga bernazar, apabila hajatnya terkabul maka akan datang lagi untuk menunaikan nazarnya. Lalu hajat apa yang paling sering dilakukan?
Kisah ini Misteri dapatkan dari pria asal Martapura. Kebetulan pria ini seorang spiritualis yang biasa mendengar kisah-kisah legenda atau kegaiban di wilayah Kalsel.
Menurutnya, ada kepercayaan di masyarakat bahwa kalau mau pergi haji, datanglah ke Masjid Jami. Maksudnya adalah, apabila seseorang berkeinginan beribadah haji ke Makkah, tetapi kekurangan atau bahkan tidak ada dana yang mencukupi, maka mereka datang ke Masjid Jami untuk melakukan tirakat.
Di masjid itu, mereka lantas beribadah memohon sambil menangis kepada Tuhan agar keinginannya dapat terlaksana. Mereka juga berpuasa dan berzikir. Syukurlah, banyak diantara mereka yang terkabul hajatnya.
Tetapi dia mengingatkan, meski kisah ini tergolong aneh, tidak berarti orang-orang yang berkeinginan kuat pergi haji tapi kurang modal lantas datang ke Masjid Jami.
“Masjid itu kan rumah Tuhan. Maka sering-seringlah beribadah di masjid. Jangan hanya Jumat atau Maghrib saja,” demikian katanya.
Menurutnya, apabila seseorang sudah terbiasa beribadah di masjid (yang nota bene adalah ‘Rumah Tuhan’), Allah SWT pasti akan meridhoi hambaNya untuk beribadah di Masjidil Haram.”
Jadi sering-seringlah ibadah di masjid berjamaah dengan sesama Muslim lainnya. Insya Allah, mereka yang ikhlas melakukan akan berkesempatan ibadah di dekat Rumah Tuhan (Ka’Bah) di Mekkah.
Namun tidak semua yang tirakat di Masjid Jami berhajat naik haji. Ada diantara mereka yang ingin mendapat jodoh, usahanya laris, dll. Semua itu merupakan hal wajar dan sah-sah saja. Beribadah di masjid secara berjamaah terasa afdhol dan lebih cepat terkabulnya hajat daripada ibadah di rumah secara sendiri-sendiri.
-oOo-

Geger Nasional Karena Pentas Lokal (Pidato Sukarno di Kota Amuntai)

Posted: by Rusman Effendi in
0





Sebagai peminat sejarah, saya tertarik dengan isu khilafat yang sempat gencar dikampanyekan oleh kelompok tertentu sebagai sistem alternatif yang di mata mereka lebih baik daripada ‘sistem sekuler’ yang berlaku di negara ini. Buat saya fenomena ini berada dalam kerangka konflik ideologis yang mewarnai perjalanan bangsa ini sejak kelahirannya, di mana Islam sebagai ideologi dihadapkan dengan negara.

Diskursus tentang hubungan Islam dan negara menurut Arief Afandi, memang merupakan tema yang tak pernah usai dibahas (*1). Pertanyaannya, sejak kapan dan di mana sebetulnya isu ini mulai mengemuka sebagai wacana publik di negeri ini? Menakjubkan! Hasil penelusuran saya tertumbuk pada satu nama: Amuntai!

Dialog Lewat Poster
Semuanya bermula dari Pidato Bung Karno yang ia sampaikan di Amuntai dalam rangkaian kunjungannya ke Kalimantan pada Januari 1953. Soal ini selain diungkap oleh Tim Peneliti Sejarah Banjar, selanjutnya disingkat Tim Peneliti (*2), juga dikuatkan oleh Tim Penyusun Buku Berdirinya Kabupaten HSU, selanjutnya disingkat Tim Penyusun(*3). Sementara itu Majalah Tempo Edisi 18-24 Agustus 2003, selanjutnya disingkat Tempo (*4) juga menginformasikan hal serupa pada Liputan Khususnya tentang Aceh.

Selama kunjungan Presiden RI pertama itu, yang merupakan masalah pokok di antaranya adalah tentang kedudukan Islam dalam masyarakat, dan apakah Indonesia menjadi negara Islam atau tidak (*5). Isu ini mengemuka pada sebuah rapat raksasa di tanah lapang Amuntai yang dihadiri ribuan khalayak, di mana Soekarno dihadapkan pada banyak poster dan salah satunya bertuliskan: “Minta Penjelasan: Negara Nasional atau Negara Islam?”(*6)
Ini rupanya menarik perhatian presiden. Maka seperti yang diungkapkan Tempo (*7), Soekarno pun berpidato di Amuntai Kalimantan Selatan pada 27 Januari 1953. Di sana ia menolak Islam sebagai dasar negara. “Yang kita inginkan adalah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia,” ujarnya. “Jika kita mendirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya bukan Islam akan memisahkan diri.” Saat itu, demikian Tempo, memang ada program politik nasional merebut Irian Barat. Negara Islam menurut Soekarno akan membuat Irian Barat tak mau jadi bagian dari Republik.

Patut dicatat, saat itu pemerintahan RI masih menganut sistem parlementer dan konstitusi yang berlaku pun bersifat semantara/UUDS ’50. Jadi yang berwenang menentukan ideologi negara seharusnya bagian dari Parlemen (kelak disebut Konstituante, hasil Pemilu 1955), bukan presiden. Maka tidak aneh apabila kemudian, seperti yang disebut Tim Penyusun, sebuah koran Belanda Niews Rotterdamsch Courant/NRC menulis: “Presiden Soekarno terlalu prematur telah membakar-bakar semangat juang rakyat Amuntai ke arah Negara Nasional di luar kompetensinya sebagai seorang presiden. Kalau bicara di Amuntai seharusnya Soekarno agak berhati-hati.”

Terlepas apapun motif dibaliknya, namun sebagai pers dari bangsa yang pernah lama mengkoloni Indonesia, agaknya NRC relatif faham akan religiusitas masyarakat Kalsel. Dalam konteks ini dapat dipahami maksud mereka, bahwa seharusnya Soekarno agak berhati-hati untuk mengkampanyekan ‘ide-ide sekuler’ di Amuntai yang menjadi bagian dari daerah religius tersebut.

Namun faktanya, reaksi keras kelompok-kelompok Islam justru muncul di luar Amuntai. Mula-mula Masyumi Kalsel yang di antaranya menyatakan pidato itu sebagai propaganda berat sebelah. Isi pidato tersebut menurut Tim Penyusun segera tersiar luas oleh Kantor Berita Antara ke seluruh Tanah Air dan Internasional. Selanjutnya timbullah reaksi dari Jawa Barat, Sulawesi, Aceh dan lain-lain tempat. Di Jakarta, massa Masyumi berdemonstrasi di Lapangan Banteng. Sikap yang sama juga diambil oleh NU dan GPII. Tak ketinggalan, Ketua HMI menyurati Soekarno untuk minta penjelasan. Sehubungan dengan itu, dalam ceramahnya di UI Soekarno memulai penjelasan dengan kata-kata: “Ketika aku berdiri di Amuntai….” Lalu dijelaskannya, bahwa ia memilih Negara Nasional sebagai jawaban atas pertanyaan rakyat di sana, semata-mata demi mempertahankan konstitusi. Namun demikian menurutnya: “sesaatpun tak ada terkandung maksud untuk melarang kaum muslim mempropagandakan cita-cita Islam ”(*8).

Apapun halnya, yang pasti Pidato Soekarno di Amuntai itu terlanjur memanaskan suhu politik di tanah air. Masih terkait masalah ini, Soekarno kemudian terlibat dalam serangkaian debat serius dengan Muhamad Natsir, tokoh Masyumi.

Sementara itu daerah Aceh tengah bergolak menyusul dicabutnya status Provinsi Aceh pada 23 Januari 1951 Pemerintah Pusat untuk kemudian dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara. Padahal–masih dikutip dari Tempo–pada Juli 1948 Bung Karno sempat bersumpah di hadapan Teungku Daud Beureueh (Pemimpin Aceh masa itu): “Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam.” Kegelisahan rakyat Aceh kian tajam ketika Soekarno berpidato di Amuntai. Sebab itulah, jika di tempat lain reaksi terhadap Pidato Soekarno paling keras hanya ditempuh melalui jalan aksi demonstrasi, maka Aceh lebih memilih jalan lain: Pemberontakan Darul Islam di bawah pimpinan Daud Beureueh!(*9)

Sebelum tentara dikirim untuk menumpas pemberontakan tersebut, Soekarno sendiri menurut Tempo, sebetulnya telah lebih dahulu mendatangi Aceh untuk mendinginkan suasana. Namun seperti yang dicatat Herbert Feit dalam artikelnya di Jurnal Pacific Affairs pada 1963 (*10) betapa Soekarno tak berdaya disambut poster-poster anti presiden yang salah satunya berbunyi: “Kami Cinta Presiden Tapi Lebih Cinta Agama.”

Seolah-olah itu adalah penolakan rakyat Aceh terhadap jawaban Soekarno atas pertanyaan rakyat Amuntai: “Negara Nasional Atau Negara Islam?”. Uniknya aspirasi rakyat dari dua daerah berjauhan ini didialogkan dengan cara yang sama: Melalui Poster.

Pojok Terpencil
Perdebatan soal ideologi negara dalam sejarah Indonesia sebetulnya tidak hanya terjadi tahun limapuluhan. Sewaktu Kemerdekaan RI dipersiapkan pada 1945, soal yang sama bahkan telah membelah tokoh-tokoh pendiri bangsa ke dalam dua kubu, yaitu antara kelompok nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Perdebatan antar mereka pun, sejauh yang kita pelajari, cukup sengit. Hanya saja, semuanya berlangsung di ruang tertutup melalui serangkaian Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sebaliknya, seperti yang telah terurai di atas, perdebatan ideologis pada era limapuluhan itu telah merambah ke ruang publik dalam skala yang begitu luas dan diwarnai pula dengan aksi-aksi massa. Salah satu eksesnya bahkan turut memicu gerakan separatis seperti yang terjadi di Aceh.

Agak susah dipercaya, segala prahara politik ini ternyata bermula dari Pidato Presiden Soekarno yang di sampaikan di Amuntai, sebuah tempat yang oleh Tim Peneliti Sejarah Banjar sendiri diistilahkan sebagai sebuah ‘pojok terpencil di Indonesia’. Namun apapun halnya, pojok terpencil itu pernah dijadikan Bung Karno sebagai ‘pentas lokal’ yang menggegerkan jagad politik nasional.
* Tulisan ini telah publish di Harian Mata Banua Banjarmasin, Edisi Senin, 25 September 2007. Judul Asli: Geger Nasional Karena Pentas Lokal: Catatan Kecil Sejarah Lokal


  1. Arief Afandi. 1995. ISLAM Demokrasi Atas Bawah: Polemik Strategi Perjuangan Umat Model Gus Dur dan Amien Rais. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hal v
  2. Tim Peneliti. 2003. Sejarah Banjar. Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan. Banjarmasin. Hal 527-528
  3. Tim Penyusun. 2003. Lintas Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Berdirinya Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara. Amuntai. Hal 72-73
  4. Tempo Edisi18-24 Agustus 2003. Patahnya Setangkai Payung. PT Tempo Inti Media. Jakarta. Hal 49
  5. Tim Peneliti. Op.Cit. Hal 527
  6. Tim Penyusun. Op.Cit. Hal 72-73
  7. Tempo. Op.Cit. Hal 49
  8. Tim Peneliti. Op.Cit. Hal 528
  9. Tempo. Op.Cit. Hal 49
  10. Herbert Feit di dalam Beureueh, Pemberontakan dengan Sebab Klasik. Tempo. Op.Cit. Hal 29-30

Nasib Intan Trisakti

Posted: Sabtu, 24 Desember 2011 by Rusman Effendi in
1


Nasib Intan Trisakti
Judul asli : Tragedi Intan Trisakti
Oleh : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd (Mantan Pedulang Intan Th.1975-1979)
(Barito Post, 16, 18, & 19 Oktober 2010)

Intan Trisakti adalah nama Intan sebesar 166,75 karat yang ditemukan oleh sekelompok pedulang intan di bawah pimpinan H. Madslam dkk (24 orang) di lokasi pendulangan intan Sungai Tiung Kec. Cempaka Kab. Banjar (Kalimantan Selatan) pada tanggal 26 Agustus 1965. Nama intan Trisakti diberikan oleh Presiden Soekarno.

Menurut versi piagam yang diberikan oleh Menteri Pertambangan RI (Armunanto), Intan Trisakti tidak dijual oleh para penemunya tetapi dipersembahkan kepada Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno (Majalah Sarinah Jakarta). Atas jasa bakti persembahan itu permerintah berjanji akan memberikan balas jasa yang sepadan kepada H. Madslam dkk.

Balas jasa memang diberikan dalam bentuk ongkos naik haji untuk para penemu intan ditambah dengan sanak keluarganya, dan para pejabat yang terlibat. Jika dihitung secara keseluruhan, akumulasi uang balas jasa yang diberikan pemerintah kepada H. Madslam dkk ketika itu tercatat sebesar Rp. 3,5 juta. Padahal, konon menurut taksiran kasar, harga yang pantas untuk Intan Trisakti ketika itu adalah Rp. 10 triliun.
    
Minggu, 22 Agustus 1965
Pukul 01.00-02.30 Wita
H. Madslam salah seorang pedulang intan di Kec. Cempaka bermimpi menggiring ratusan ekor kerbau menuju ke sebuah bukit. Begitu kerbau-kerbau itu sampai ke tempat yang dituju, H. Madslam terbangun dari tidurnya. H. Madslam ketika itu berstatus sebagai kepala kelompok pendulangan intan yang berjumlah 22 orang. Mereka ketika itu sedang menggarap sebuah lubang pendulangan di lokasi pendulangan intan Cempaka.

Pada waktu yang sama, H. Sarimanis, anak buah H. Madslam bermimpi tubuhnya ditindih seseorang yang bertubuh tambun. Ia hampir kehabisan nafas. Untunglah pada saat yang kritis itu datang bantuan seseorang. Orang itu menolongnya membebaskan dari tindihan orang yang bertubuh gempal. Setelah itu, H. Sarimanis terbangun dari tidurnya.

H. Masykur bin H. Jerman, anak buah H. Madslam, bermimpi melihat sejumlah mayat yang berserakan di bibir mulut lubang pendulangan intan yang sedang mereka garap sejak beberapa hari yang lalu. H. Tahir, anak buah H. Madslam, bermimpi melihat dua andaru (meteor). Satu andaru jatuh ke dalam lubang pendulangan, dan andaru yang satunya lagi jatuh ke atap rumah H. Madslam.

Seorang ulama warga kota Kec. Cempaka yang tidak bersedia menyebutkan namanya bermimpi melihat kota Cempaka dilanda banjir bandang.

Kamis, 26 Agustus 1965
Pukul 11.00 Wita
 H. Mastiah, seorang pendulang intan anak buah H. Madslam, sedang mengerjakan tugasnya sebagai pengayak batu dulangan (piantakan, bahasa Banjar). Batu dulangan yang masih dilekati tanah liat itu dibersihkan dengan air. Tangannya yang terlatih mengaduk-aduk batu dulangan itu. Batu-batu kecil yang lolos dari lubang ayakannya langsung masuk ke dalam linggangan yang sengaja dipasang di bawahnya.

Setelah bersih, batu-batu besar yang tersisa di dalam ayakan dibolak-baliknya dengan hati-hati, sementara itu matanya menatap dengan cermat ke arah tumpukan batu bersih yang sedang dibolak-baliknya itu.

Ternyata tidak ada intan besar yang tersangkut di ayakan itu. H. Mastiah sempat kaget setengah mati karena ia melihat karena ia melihat ada seekor ular kecil berwarna ungu sedang melingkar di antara batu-batu dulangan yang sedang diperiksanya itu. Ia bisa saja menimpuk ular kecil itu dengan batu besar yang ada di tangannya. Tapi ia tidak melakukannya, karena hal itu termasuk pantangan besar bagi seorang pendulang intan. H. Mastiah juga tidak mengusir ular itu dengan kibasan tangan atau dengan bahasa isyarat hus..hus..hus,karena hal itu juga tabu dilakukan.

H. Mastiah akhirnya nekad menangkap ular itu, namun aneh bin ajaib begitu berada di dalam genggamannya ular itu tiba-tiba berubah wujud menjadi batu kecubung berwarna ungu. Ia tidak jadi melemparkannya sebagaimana yang sudah diniatkannya tadi. H. Mastiah kemudian menyerahkan batu kecubung berwarna ungu itu kepada Syukri teman sekerjanya yang kebetulan duduk berdampingan dengannya. Ketika itu Syukri juga bertugas sebagai seorang pengayak batu seperti halnya H. Mastiah.

“Galuh..!!” pekik Syukri begitu mengamati batu kecubung berwarna ungu itu. Galuh adalah kata ganti untuk menyebut intan. Sesaat kemudian terjadilah kegaduhan kecil di lokasi pendulangan intan itu. Orang-orang yang ada di sana saling berebutan ingin melihat benda yang disebut-sebut Syukri sebagai galuh itu.

Pukul 12.10 wita
Warga desa Sungai Tiung Kec. Cemapaka gempar. Mereka berlarian dari arah kampung menuju ke lokasi pendulangan intan. Mereka tampaknya seperti berlomba ada cepat tiba di lokasi pendulangan intan.

Rupanya dalam tempo singkat berita penemuan sebutir batu besar berwarna ungu yang diduga intan itu sudah sampai ke segenap penjuru desa. Sementara itu, di lokasi pendulangan intan, orang-orang sedang ramai mengerumbungi H. Madslam yang tengah memegang sebutir bat berwarna ungu sebesar bola pimpong.

Di antara orang-orang yang sedang berkerubung itu ada yang mengatakannya bukan intan, tapi Cuma batu kecubung, tetapi banyak juga mereka yang haqqul yakin itu intan.
     “ Ini galuh. Asli galuh. Yakin ini pasti galuh..!!”
     “ Bukan, ini bukan galuh. Ini Cuma batu kecubung..!!”
     “ Galuh..!!”
     “ Bukan..!!”

Tiba-tiba di antara mereka ada yang mencabut mandau dengan maksud membelah batu ungu itu menjadi dua. Jika belah bearti batu, jika tidak bearti intan.
Tapi, orang-orang serentak mencegahnya karena hal itu tidak akan menyelesaikan masalahnya malah menimbulkan masalah.

“Sudah..sudah, bagaimana kalau kita semua sama-sama pergi ke rumah Pak Kades H. Anang Syachruni saja. Biar beliau yang memutuskan apakah benda ini intan atau Cuma batu kecubung”
“Akuuuurr..!!”

Mereka lalu berbondong-bondong meninggalkan lokasi pendulangan intan menuju ke rumah Pak Kades yang terletak di jantung kota Cempaka.

Pukul 14.00 Wita
     Begitu rombongan H. Madslam dan kawan-kawan tiba di rumah H. Anang Syachruni, rumah Pak Kades itu langsung penuh sesak. Penduduk tidak hanya berdesak-desakan di dalam rumah tetapi juga di sekeliling bagian luar rumah. Rumah Pak Kades ketika itu seperti kapal yang tengah berada di tengah-tengah lautan manusia.
     H. Anang Syachruni ternyata tidak dapat memastikan apakah batu ungu itu intan atau Cuma batu kecubung. Mereka kemudian bersepakat untuk membawa batu ungu itu ke hadapan Bupati Banjar H. Basri BA.

Pukul 17.00 Wita
     Setelah segala sesuatunya siap, mereka berangkat secara berombongan ke rumah dinas Bupati Banjar yang terletak di jantung kota Martapura.
     Mereka yang berangkat antara lain : H. Madslam, H. Jinu, H. Hassan, H. Anang Syachruni, H. Syukur dan Sersan Rahmat (sebagai pengawal mereka).

Pukul 19.00 Wita
Rombongan H. Madslam diterima langsung oleh Bupati Banjar H. Basri, BA. Begitu melihat batu ungu itu, Bupati Banjar kemudian menelepon anggota Panca Tunggal. Mereka diminta datang untuk menjadi saksi penemuan batu ungu yang sangat menakjubkan itu. Selain itu Bupati Banjar juga memanggil seorang ahl intan untuk memastikan apakah batu ungu itu intan atau Cuma batu kecubung.
Tidak lama kemudian, orang-orang yang dipanggil Bupati Banjar berdatangan satu persatu. Mereka adalah Kapten Inf. R. Soeparno (Komandan Kodim 1006 Martapura), AKBP Aridjas Syarif (Komandan Resort Kepolisian Banjar), Dahlan (Kepala Kejaksaan Negeri Martapura), Poedjastoeti (Ketua Front Nasional Banjar), dan H. Hasnan (Camat Banjarbaru), dan ahli intan.
Begitu tiba, ahli intan segera melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat penguji intan yang dibawanya. Tidak lama kemudian ahli intan memastikan bahwa batu ungu itu adalah intan, bukan batu kecubung.
Mendengar penegasan itu, H. Madslam dan kawan-kawan segera mengucap syukur dan beberapa orang diantaranya langsung sujud syukur di kediaman dinas Bupati Banjar. 

Kamis, 26 Agustus 1965
Pukul 21.00 Wita
Tiba-tiba mereka yang berkumpul di rumah dinas Bupati Banjar dikejutkan oleh teriakan kebakaran. Ternyata, yang terbakar adalah Pasar Batuah, yakni pasar bertingkat duayang terletak persis di seberang jalan rumah dinas Bupati Banjar. Bupati Banjar memutuskan agar intan dititipkan di Kantor Resort Kepolisian Banjar, karena sangat riskan jika intan itu dibawa pulang kembali ke Cempaka pada malam hari itu juga. Salah-salah mereka akan dirampok orang ditengah jalan.

H. Madslam tidak setuju dengan keputusan Bupati Banjar. Mereka ingin membawa intan itu pulang kembali ke Cempaka pada malam itu juga. Mereka yakin tidak akan terjadi apa-apa di tengah jalan. Apalagi mereka ketika itu dikawal oleh anggota polisi (Sersan Rahmat).

Namun keputusan Bupati Banjar didukung oleh anggota Panca Tunggal lainnya. Tidak ada pilihan bagi H. Madslam dan kawan-kawan kecuali menitipkan intan itu di Kantor Resort Kepolisian Banjar.

Penitipan itu disertai dengan tanda terima yang ditandatangi oleh Bupati Banjar, Dandim, Danres Kepolisian Banjar, dan disaksikan oleh 6 orang saksi yang ikut membubuhkan tandatangannya. Pada kesempatan itu Danres Kepolisian Banjar berjanji akan membawa intan titipan itu ke Cempaka untuk diserahkan kembali kepada para pemiliknya yang dalam hal ini diwakili oleh H. Madslam pada 28 Agustus 1965.
     
Sabtu, 28 Agustus 1965
Pukul 07.00 Wita
Warga kota Cempaka sudah berkumpul di alun-alun kota. Suasana kota Cempaka tampak hiruk pikuk oleh kehadiran warga kota yang berdatangan dari segenap pelosok kota. Mereka ingin menyaksikan peristiwa langka yang tak mungkin terulang lagi.
Hari itu, H. Madslam selaku wakil pemilik akan menerima kembali intan temuan mereka yang selama dua hari berturut-turut dititipkan di Kantor Resort Kepolisian Banjar di Martapura. Sesuai janji yang diucapkan Danres Kepolisian Banjar, intan itu akan diantarkan dan diserahkan langsung kepada H. Madslam di hadapan warga kota Cempaka.
    
Pukul 11.00 Wita
Rombongan Danres Kepolisian Banjar tiba di alun-alun kota Cempaka. Mereka dielu-elukan oleh warga kota yang berkumpul di tempat itu. Danres Kepolisian Banjar kemudian memperlihatkan intan yang dipegangnya kepada warga kota Cempaka. Tapi, intan itu ternyata tidak diserahkan kembali kepada H. Madslam sesuai janji Danres Kepolisian Banjar.
Pada kesempatan itu diumumkan bahwa Presiden Soekarno telah memerintahkan agar intan segera dibawa ke Jakarta. Tiga orang telah ditunjuk untuk membawanya ke Jakarta, yakni Bupati Banjar, Danres Kepolisian Banjar, dan H. Madslam.
    
Pukul 12.00 Wita
H. Madslam dan para penemu intan lainnya berunding untk merumuskan bagaimana caranya agar beberapa orang di antara mereka dapat ikut srta berangkat ke Jakarta.

Pukul 13.00 Wita
Direktur Utama BPU Pertambun Jakarta mengirim surat kepada Panca Tunggal Kabupaten Banjar bahwa intan temuan H. Madslam dkk akan dibeli pemerintah. Harga belinya akan ditetapkan dengan setepat-tepatnya setelah pemerintah mendapatkan penjelasan yang diperlukan dari para ahli intan dari dalam dan luar negeri.
Surat itu dibawa langsung oleh Do’a Sulaiman selaku utusan BPU Pertambun Jakarta yang sengaja dikirim ke Banjarmasin dengan tugas khusus menjemput intan temuan H. Madslam dkk. Keberangkatannya ke Banjarmasin dikawal oleh satu tim polisi khusus.
     
Minggu, 29 Agustus 1965
Pukul 06.00 Wita
H. Madslam, H. Hasnan, H. Anang Syachruni, dan H. Hasyim berangkat ke lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Mereka ingin bergabung dengan rombongan Bupati Banjar, dan Danres Kepolisian Banjar yang akan berangkat ke Jakarta pada hari itu juga.

Pukul 10.00 Wita
Ternyata kursi yang tersedia di pesawat terbang Garuda Indonesia Airways tujuan Jakarta sudah terisi penuh. Mendengar penjelasan itu H. Madslam jatuh pingsan. Situasi di lapangan terbang Ulin Banjarbaru menjadi mencekam karenanya.
Pada saat itulah pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang membawa rombongan Do’a Sulaiman tiba di lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Kepada Bupati Banjar, Danres Kepolisian Banjar, dan H. Madslam dkk diberitahukan bahwa intan itu akan dibeli pemerintah pusat dengan harga yang pantas.
Penetapan harga yang pantas itu akan dilakukan pemerintah setelah mendengar penjelasan para ahli mengenai kualitas fisik intan dan perkiraan harga jualnya di pasaran internasional. Namun, sebelum kesepakatan harga tercapai, pemerintah akan segera memberikan uang persekot sebesar Rp. 200 juta.
Mendengar penjelasan Do’a Sulaiman itu, H. Madslam siuman. Pada saat itulah intan diserahkan kepada Do’a Sulaiman. Oleh Do’a Sulaiman intan itu dititipkan untuk disimpan di dalam tas milik isteri Irjenpol Soekahar (Panglima Daerah Kepolisian Kalselteng) yang kebetulan juga akan berangkat ke Jakarta dengan pesawat yang sama.
    
Pukul 12.00 Wita
Sesaat sebelum naik ke pesawat terbang Garuda Indonesia Airways, lagi-lagi H. Madslam jatuh pingsan. Ia terpaksa digantikan oleh H. Hasyim pamannya sendiri. H, Madslam siuman kembali ketika roda pesawat terbang terangkat dari landasan pacu lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Namun, tidak berapa lama kemudian H. Madslam pingsan lagi.

Pukul 12.30 Wita
Pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang membawa intan hasil temuan H. Madslam dkk mendarat di lapangan terbang Kemayoran Jakarta. Intan kemudian dibawa ke rumah Soetjipto Joedodihardjo untuk dititipkan di sana.

Senin, 30 Agustus 1965
Pukul 12.00 Wita
H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni berangkat ke Jakarta dengan menumpang pesawat terbang yang tinggal landas di lapangan terbang Ulin Banjarbaru. Ternyata, pesawat terbang Garuda Indonesia Airways yang mereka tumpangi tidak langsung terbang ke Jakarta, tetapi singgah dulu di Surabaya. Mereka terpaksa menginap di Surabaya.

Pukul 12.00 Wita
Sementara itu, di Jakarta berlangsung pertemuan antara Presiden Soekarno dengan rombongan pembawa intan hasil temuan H. Madslam dkk. Pada kesempatan itulah intan diserahkan kepada Presiden Soekarno oleh Soetjipto Joedodihardjo dengan disaksikan langsung oleh rombongan pembawa intan yang datang dari daerah Kalsel.

Selasa, 31 Agustus 1965
Pukul 12.00 Wita
     H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni berangkat ke Jakarta dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia Airways yang tinggal landas di lapangan terbang Surabaya.

Pukul 12.30 Wita
     H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni tiba di Jakarta. Mereka disambut oleh petugas dari BPU Pertambun Jakarta. Mereka kemudian diinapkan di Mess Tambang Batubara Jakarta.

Pukul 19.00 Wita
     H. Madslam, H. Hasnan, dan H. Anang Syachruni dijamu makan malam di sebuah rumah makan di Jalan Bungur Besar Jakarta. Di tempat itu mereka bertemu dengan Irjenpol Soekahar (Pangdak Kalselteng), H. Basri, BA (Bupati Banjar), AKBP Aridjas Syarif (Danres Kepolisian Banjar), dan H. Basuni (Camat Astambul).
     Pada kesempatan itulah H. Madslam diberitahukan bahwa intan sudah diserahkan kepada Presiden Soekarno pada hari Senin, 30 Agustus 1965.

Rabu, 1 September 1965
H. Madslam dan rombongan dibawa berkeliling kota Jakarta. Mereka diinapkan di Hotel Indonesia, hotel terbesar dan termewah di tanah air kita ketika itu. Setelah itu mereka dibawa berkeliling kota Bandung.
Pada kesempatan berada di Jakarta ini, H. Madslam sempat meminta pihak yang berkentingan untuk membantu bagaimana caranya supaya mereka dapat bertemu langsung dengan Presiden Soekarno.
Sesuai dengan prosedur resmi, pihak protokoler istana ketika itu berjanji akkan menghubungi para ajudan supaya H. Madslam dan rombongannya dapat bertemu Presiden Soekarno. Tapi, karena padatnya jadwal acara yang harus dijalani Presiden Soekarno, maka H. Madslam dan rombongannya tak kunjung dipanggil untuk bertemu.

Kamis, 2 September 1965
Presiden Soekarno memberinama Intan Trisakti untuk intan hasil temuan H. Madslam dkk.

Senin, 6 September 1965
Setelah berada di Surabaya, Jakarta, dan Bandung selama 7 hari, H. Madslam dan rombongannya hari ini tiba kembali di kota Cempaka.

Rabu, 29 September 1965
H. Madslam hari ini menerima uang sebesar Rp. 200 jt dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya itu merupakan uang pembayaran tahap pertama untuk pembelian Intan Trisakti. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Kamis, 30 September 1965
Terjadi huru-hara politik di Jakarta. PKI melakukan penculikan atas 7 orang petinggi TNI AD. Para petinggi TNI AD itu kemudian dibunuh dengan cara-cara yang sadis di suatu tempat di Jakarta yang disebut lubang buaya.
    
Jumat, 1 Oktober 1965
Panglima Kostrad Mayjend Soeharto berhasil menumpas habis G30.S/PKI yang dipimpin oleh Letkol Untung dari Resimen Tjakrabirawa.
    
13 Desember 1965
H. Madslam dkk kelimpungan, tanpa diduga sama sekali pemerintah pusat melakukan sanering, yakni memotong nilai uang dari Rp. 1.000,- menjadi Rp. 1,- (Lembaran Negara Nomor 102/1965). Uang pembayaran harga intan yang baru mereka terima langsung merosot nilainya menjadi Rp. 200 ribu saja.

Pebruari 1966
Presiden Soekarno berhasil meredakan suhu politik yang sempat memanas setelah meletusnya huru-hara G30.S/PKI. Kesempatan ini digunakan oleh pemerintah pusat untuk membayar harga beli Intan Trisakti pada tahap kedua sebesar Rp. 200 riba uang baru yang setara dengan Rp. 200 juta uang lama. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Maret 1966
H. Madslam menerima uang sebesar Rp. 960 ribu uang baru yang setara dengan Rp. 960 juta uang lama dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya itu merupakan uang pembayaran tahap ketiga untuk pembelian Intan Trisakti. Tapi, uang ini tidak dibagikan karena merupakan uang yang harus mereka bayarkan untuk ongkos naik haji secara berombongan bagi 86 orang calon jemaah haji

Rinciannya 22 orang berstatus sebagai anggota kelompok pendulang intan penemu Intan Trisakti, 22 orang isteri-isteri mereka, dan sisanya adalah calon jemaah haji yang berstatus sebagai pemilik tanah, pemilik pompa, pemilik peralatan lainnya, para pejabat Pemda Kalsel, dan para pejabat Departemen Pertambangan Jakarta (yang juga berangkat beserta isteri/suaminya masing-masing).

15 Juni 1966
Mulyono, pejabat Bank Indonesia Jakarta, hari ini menyerahkan Intan Trisakti kepada Dr. IC Berg. Penyerahan Intan Trisakti dilakukan di anak tangga pesawat terbang KLM yang sudah siap tinggal landas dari Bandara Kemayoran Jakarta menuju ke Den Haag, Negeri Belanda. Menurut rencana Intan Trisakti akan diperiksa oleh tim ahli dari NV Asecher Belanda.

9 Nopember 1966
Tim ahli NV Asecher Belanda menemukan cacat fisik pada Intan Trisakti. Ada fleks (kotoran) yang melekat di dalamnya. Fleks itu harus dibuang lebih dulu. Selain itu, pihak NV Asecher juga menyarankan agar Intan Trisakti dipotong-potong menjadi beberapa butir. Alasannya, jauh lebih mudah menjual beberapa butir intan berukuran kecil, daripada menjual sebutir intan berukuran besar.
Pemerintah pusat menyetujui semua usulan NV Asecher itu. Intan Trisakti kemudian dipotong-potong hingga menjadi beberapa butir. Butiran terbesar konon berukuran 60 karat. Intan ini kemudian dibeli oleh seorang pengusaha Jerman sebagai hadiah untuk isterinya. Butiran intan lainnya yang berukuran lebih kecil juga dibeli orang tak lama setelah selesai dipotong dan digosok oleh tim ahli NV Asecher Belanda.

Desember 1966
H. Madslam menerima uang sebesar Rp. 2.140.000,- dari pemerintah pusat. Uang yang diterimanya ini merupakan uang pembayaran tahap ke empat (tahap terakhir) untuk pembelian Intan Trisakti. Pada hari itu juga uang dimaksud dibagi rata kepada mereka yang berhak menerimanya.

Tahun 1973
H. Madslam berangkat ke Jakarta untuk menemui seorang pejabat BPU Pertambun yang berjanji akan membantunya menuntut pembayaran tambahan kepada pemerintah pusat atas harga penjualan Intan Trisakti miliknya.
H. Madslam ketika itu Cuma menerima surat penghargaan yang diberikan oleh Menteri Pertambangan RI Armunanto (Anggota Kabinet Seribu Menteri).
Setelah sempat menggelandang selama 2 hari di Istora Senayan Jakarta, H. Madslam akhirnya berhasil pulang kembali ke kota Cempaka. Biaya untuk pulang kembali ke kota Cempaka itu diperolehnya dari bantuan Ridwan Machmud, pejabat BPU Pertambun Jakarta yang bersimpati kepada nasib buruknya.

19 Juni 1975
H. Madslam dkk mengangkat Antara Hutauruk sebagai pengacara yang akan bertindak atas nama mereka dalam usaha menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.
Langkah pertama yang ditempuh Antara Hutauruk adalah mengirim surat kepada Direktur Utama BPU Pertambun Jakarta. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

19 Agustus 1975
Antara Hutauruk mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

2 Oktober 1975
Antara Hutauruk menerima balasan surat dari Inspektur Jenderal Departemen Pertambangan RI (Laksamana Muda JU Sulamet). Surat balasan itu berisi penjelasan bahwa masalah pembayaran harga jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

19 Oktober 1975
Antara Hutauruk mengirim surat kepada Inspektur Jenderal Departemen Pertambangan RI (Laksamana Muda JU Sulamet). Melalui surat yang dikirimkannya itu Antara Hutauruk mengajukan sejumlah argumen dan fakta-fakta yang mendukung klaimnya bahwa kliennya sangat layak untuk mendapatkan uang tambahan pembayaran dari pemerintah pusat atas transaksi jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.
    
28 Oktober 1975
Sekretaris Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara mengirim surat kepada Gubernur Kalsel. Surat itu berisi penegasan bahwa masalah pembayaran harga jua beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

19 Januari 1976
Antara Hutauruk mengirim surat kepada Presiden Soeharto dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

26 Pebruari 1976
Antara Hutauruk menerima surat balasan dari Mudjono, SH, Sekretaris Jenderal DPR RI. Surat itu berisi penegasan bahwa masalah pembayaran harga jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

16 Nopember 1976
Antara Hutauruk mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal DPR RI di Jakarta. Melalui surat yang dikirimkannya itu Antara Hutauruk mengajukan sejumlah argumen dan fakta-fakta yang mendukung klaimnya bahwa kliennya sangat layak untuk mendapatkan uang tambahan pembayaran dari pemerintah pusat atas transaksi jual beli Intan Trisakti telah lama diselesaikan oleh pemerintah pusat.

5 Januari 1978
Antaraa Hutauruk kembali mengirim surat kepada Presiden Soeharto. Isi surat itu adalah pihak klien yang diwakilinya menuntut tambahan pembayaran atas harga jual beli Intan Trisakti kepada pemerintah pusat.

Majalah Dialog Jakarta menurunkan tulisan bersambung tentang kisruhnya dan belum tuntasnya pembayaran harga jual beli Intan Trisakti oleh pemerintah pusat kepada H. Madslam dkk.

7 Nopember 1979
Antara Hutauruk mengundurkan diri sebagain pengacara H. Madslam dan kawan-kawan


-oOo- 

Sumber : http://m.facebook.com/note.php?note_id=172683222747254&refid=21&ref=nf_fr