Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Tjilik Riwut

Posted: Senin, 16 April 2012 by Rusman Effendi in
0

Tjilik Riwut (lahir di Kasongan, Katingan, Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 – meninggal di Rumah Sakit Suaka Insan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987 pada umur 69 tahun) adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal setelah dirawat di rumah sakit karena menderita penyakit lever/hepatitis dalam usia 69 Tahun, dimakamkan di makam Pahlawan Sanaman Lampang, Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Tjilik Riwut yang dengan bangga selalu menyatakan diri sebagai "orang hutan" karena lahir dan dibesarkan di belantara Kalimantan, adalah pencinta alam sejati juga sangat menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Ketika masih belia ia telah tiga kali mengelilingi pulau Kalimantan hanya dengan berjalan kaki, naik perahu dan rakit.

Tjilik Riwut adalah salah satu putera Dayak yang menjadi KNIP. Perjalanan dan perjuangannya kemudian melampau batas-batas kesukuan untuk menjadi salah satu pejuang bangsa. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998 merupakan wujud penghargaan atas perjuangan di masa kemerdekaan dan pengabdian membangun Kalimantan (Tengah).

Setelah dari Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, Tjilik Riwut diterjunkan ke Kalimantan sebagai pelaksana misi Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja terbentuk, namun beliau tidak terjun. Nama-nama yang terjun merebut kalimantan adalah Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F. M. Suyoto, Bahrie, J. Bitak, C. Williem, Imanuel, Mika Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J. H. Darius, dan Marawi.

Rombongan-rombongan ekspedisi ke Kalimantan dari Jawa yang kemudian membentuk barisan perjuangan di daerah yang sangat luas ini. Mereka menghubungi berbagai suku Dayak di berbagai pelosok Kalimantan untuk menyatukan persepsi rakyat yang sudah bosan hidup di alam penjajahan sehingga bersama-sama dapat menggalang persatuan dan kesatuan.

Selain itu, Tjilik Riwut berjasa memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung Pertama dalam sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 17 Oktober 1947 oleh pasukan MN 1001, yang ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI-AU yang diperingati setiap 17 Oktober. Waktu itu Pemerintah RI masih di Yogyakarta dan pangkat Tjilik Riwut adalah Mayor TNI. Pangkat Terakhir Tjilik Riwut adalah Marsekal Pertama Kehormatan TNI-AU.

Tjilik Riwut adalah salah seorang yang cukup berjasa bagi masuknya pulau Kalimantan ke pangkuan Republik Indonesia. Sebagai seorang putera Dayak ia telah mewakili 142 suku Dayak pedalaman Kalimantan bersumpah setia kepada Pemerintah RI secara adat dihadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta, 17 Desember 1946.

Sebagai tentara, pengalaman perangnya meliputi sebagian besar pulau Kalimantan dan Jawa. Setelah perang usai, Tjilik Riwut aktif di pemerintahan. Dia pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, menjadi koordinator masyarakat suku-suku terasing untuk seluruh pedalaman Kalimantan, dan terakhir sebagi anggota DPR RI.

Keterampilan dalam menulis diasahnya semasa dia bergabung dengan Sanusi Pane di Harian Pembangunan. Tjilik Riwut telah menulis sejumlah buku mengenai Kalimantan: Makanan Dayak (1948), Sejarah Kalimantan (1952), Maneser Panatau Tatu Hiang (1965,stensilan, dalam bahasa Dayak Ngaju), Kalimantan Membangun (1979).

sumber : http://silminapunya.blogspot.com/2010/08/tjilik-riwut-pahlawan-tak-dikenal.html

H. Muhammad Hanafiah

Posted: by Rusman Effendi in
2

 
Ia menjadi Menteri Agraria pertama di Republik ini dalam Kabiiet Ali Sostroamidjoyo (1952-1955) di era Presiden Soekarno. Pada Pemilu 1955 ia terpilih jadi Anggota DPR-RI dari Kalimantan Selatan mewakili Partai Nahdlatul Ulama (NU).  
 
Sebelum berkiprah di tingkat nasional Kiai Kacamata begitulah julukannya pemah menduduki jabatan Residen Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1950) dan Residen Sumatera Selatan di Palembang (1951). 
 
Kemudian dipindah ke Jakarta menjadi Pegawai Tinggi pada Kementerian Pertanian, merangkap Direktur Yayasan Karet Rakyat Pusat di Jakarta dan Pimpinan INIRO (Balai Penelitian dan Pemakaian Karet) di Bogor. 
 
Meluasnya pertanaman komoditas karet di Kalimantan Selatan ini tidak lepas dari jasa seorang tokoh putra daerah yang juga mantan Menteri Agraria dalam kabinet Ali Sostroamidjoyo (1952-1955) di era pemerintahan Presiden Soekarno yaitu H. Mohammad Hanafiah. Awalnya H. Mohammad Hanafiah yang lahir di Kandangan tanggal 17 Juni 1904 mengeksplorasi dan mensosialisasikan tanaman karet alam sebelum ditemukan generasi klon-klon unggul saat ini. Beliau adalah seseorang yang terpelajar pada masanya, setelah tamat dari Governement School di Kelua tahun 1915, beliau meneruskan pendidikannya di OSVIA (Opleiding School Voor Indlansche Ambtenaren) atau sekolah pamong khusus bumiputera di Makasar selama 6 tahun. Pada tahun 1929 beliau mendapatkan tugas belajar dari pemerintah Hindia Belanda di sebuah akademi pamong praja lanjutan yaitu Bestuurs Academie di Batavia hingga tahun 1931. Karir beliaupun terbilang cemerlang, sebelum menjabat sebagai Menteri Agraria diantaranya beliau pernah menjabat sebagai Residen Kalimantan Selatan tahun 1950 dan Residen Sumatera Selatan tahun 1951, dan kemudian diangkat menjadi pegawai tinggi pada kementerian pertanian yang merangkap sebagai Direktur Yayasan Karet Rakyat Pusat di Jakarta serta pimpinan Balai Penelitian dan Pemakaian Karet (INIRO) di Bogor.

Karena obsesi beliau yang sangat besar untuk memajukan tanah Banjar, sejak awal tahun 1930 an beliau tidak hanya berkutat pada sistem budidaya karet saja namun juga merintis usaha-usaha rakyat berupa industri processing getah karet dengan mempelopori berdirinya rumah asap rakyat pertama di Kalimantan Selatan dan terus mendorongnya hingga mencapai 700 an unit rumah asap rakyat di Kalimantan Selatan pada tahun 1934.

Atas usaha beliau, hingga tahun tersebut usaha budidaya tanaman karet rakyat di Kalimantan selatan telah mencapai 110.000 ha dengan produksi 60.000 ton yang sebagian besar diekspor ke luar negeri. Atas prestasi beliau tersebut, beliau terpilih menjadi anggota Plaatselijk Rubber Commissie (Komisi Karet Kabupaten) di Amuntai, kemudian Gewestelijk Rubber Commissie (Komisi Karet Propinsi) di Banjarmasin dan akhirnya di Central Rubber Commissie (Komisi Karet Pusat) di Jakarta. Komisi ini bekerja untuk mengatur dan meningkatkan produksi serta mutu karet rakyat. Jenis-jenis karet unggul di Kalimantan Selatan mulai disebar luaskan pada masyarakat saat beliau menjabat sebagai Direktur Yayasan Karet Rakyat tahun 1951.

la menikah tahun I922 dengan Hj.Aluh Hamsyah, puteri penama H.Anang Syukri (Anang Katuk) dari Kabun Sari Amuntai dengan Hj.Ratna (adik H.Karnamddii). Dari perkawinan ini, mereka dikarunia sepuluh orang putera-puteri masing-masing H.Abdurrasyid Hanafiah, H.Abdul Gaffar Hanafiah, H.Abdul Azis Hanafiah, H.Abdullah Hanafiah, H.Abdul Kariem Hanafiah, Drs.H.M.Hasan Hanafiah, Drs.H.M.Husin Hanafiah, Hj.Noor Latifah Djadji Anta, H.Abdu1 Latief Hanafiah, MSc., dan Hj.Mastifah Azhari Nanung.

Setelah isterinya wafat tahun 1979, tahun 1981 ia menikahi Hj.Nursehan, tapi hanya sempat 3 bulan, dalam usia 77 tahun H.Mohammad Hanafiah wafat di Banjarmasin 9 Juli 1981 (7 Ramadhan 1401) dan dimakamkan di alkah keluarga di Sungai Malang Amuntai. Beberapa penghargaan adalah  Medali Groote Zilverens Ster dari Pemerintah Belanda (1938).

sumber :
http://nurindarto.blogspot.com/2011/06/manurih-gatah.html
http://images.oeze.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SCMedgoKCh8AAFKlXdc1/busyairi%20madjidi.pdf?key=oeze%3Ajournal%3A5&nmid=95071890


Posting dari Kaos Hy-Munk Banjarmasin
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3585866694421&set=a.3449727051015.154262.1505903375&type=3