Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Sejarah Rumah Adat Banjar dan Filosofinya

Posted: Kamis, 02 Agustus 2012 by Rusman Effendi in
0

Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.

Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar. Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung.

Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain. Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan.Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak.

Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang. Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba.

Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung. Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.

Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.

Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah. Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah.

Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.

Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Ini Arti dan Folosofi-Filosofi Rumah Banjar :

Dwitunggal Semesta
" Maharaja Suryanata"
Manifestasi Dewa Matahari (Surya)


Rumah Bubungan Tinggi merupakan Lambang Mikrocosmos dalam Makrocosmos

Rumah Bubungan Tinggi melambangkan perpaduaan Dunia Atas dan Dunia Bawah




 " Puteri Junjung Buih "
Lambang air dan Kesuburan tanah



Pohon Hayat dan Payung
Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang menjulang ke atas merupakan citra dasar sebuah “Pohon Hayat” yang merupakan lambang kosmis (pencerminan dimensi-dimensi dari kesatuan semesta).








Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang menjulang ke atas merupakan citra dasar sebuah “Payung” yang menunjukkan satu orientasi kekuasaan ke atas (lambang kebangsawanan yang biasa menggunakan “Payung Kuning”).


Simetris

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjungan yang terdiri atas Anjungan Kanan dan Anjungan Kiwa

Filosofi simetris (seimbang) dalam Pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian menjadi Mantri Panganan (Kelompok menteri kanan) dan Mantri Pangiwa (kelompok menteri kiri)

Konsep Simetris tercermin pada rumah Bubungan Tinggi








Kepala - Badan - Kaki
Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan Tubuh Manusia yang terbagi menjadi bagian secara Vertikal yaitu :

1. Kepala
2. Badan
3. Kaki

Anjunga diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri















Tawing Halat
Ruang dalam rumah Banjar Bubungan Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat private dan semi private

Diantara ruang Penampikan Basar yang bersifat semi prive dengan ruang Palindung yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya "dinding pemisah" 

Tawing Halat ni bagian tengahnya dapat dibuka sehingga seolah-olah suatu garis pemisah transparan antara dua dunia (luar dan dalam) menjadi terbuka.
-->










Denah Cacak Burung

Denah rumah Banjar Bubungan Tinggi berbentuk “tanda tambah” yang merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral 

Ruangan Palindungan meurpakan titik perpotongan poros-poros bangunan. secara kosmologi maka disinilah bagian paling utama dari rumah Banjar Bubungan tinggi.

Tawing Halat Melindungi area "dalam" yang merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang Palindungan. 





Tata Nilai Ruangan
Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan (Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau "dinding tengah" yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang hierarkis.

- Ruang Penampik Kecil tempat bagi anak-anak
- Ruang Penampik Tangah sebagai tempat orang biasa atau para pemuda
- Ruang Penampik Basar yang diperuntukan untuk tokoh masyarakat, hanya
   berpengaruh luas dan terpandang.



Ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar Tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (Bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantara keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam kerajaan beserta kaum hartawan.

~oOo~

Menerima Pesanan Pembuatan Maket Rumah Banjar Hubungi disini

0 komentar: