Sejarah Rumah Adat Banjar dan Filosofinya
Posted: Kamis, 02 Agustus 2012 by Rusman Effendi in
0
Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan.
Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang
tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke
belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan
ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Bangunan tambahan di samping kiri dan
kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung
keluar. Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung;
sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah
Ba-anjung.
Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan
keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan
berbagai bentuk bangunan lain. Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang
utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal
Sultan.Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut
ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan
kesultanan berupa emas dan perak.
Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan,
Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga
terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang. Selain bangunan-bangunan
tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku,
Palembangan, dan Balai Seba.
Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan
perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah
lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung. Sehingga pada akhirnya
bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang
merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas
bangunan rumah penduduk daerah Banjar.
Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja
menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke
daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sekalipun bentuk rumah-rumah
yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran
yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk
bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan.
Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat
dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin
Lama dan Kumai. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin
ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari
wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah. Sultan
Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan
oleh Sultan Inayatullah.
Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah
Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai
sultannya yang pertama. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah
Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau
ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk
bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka.
Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau
rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan
Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Dwitunggal Semesta
Ini Arti dan Folosofi-Filosofi Rumah Banjar :
" Maharaja Suryanata"
Manifestasi Dewa Matahari (Surya)
Manifestasi Dewa Matahari (Surya)
Rumah Bubungan Tinggi merupakan Lambang Mikrocosmos dalam Makrocosmos
Rumah Bubungan Tinggi melambangkan perpaduaan Dunia Atas dan Dunia Bawah
" Puteri Junjung Buih "
Lambang air dan Kesuburan tanah
Rumah Bubungan Tinggi melambangkan perpaduaan Dunia Atas dan Dunia Bawah
" Puteri Junjung Buih "
Lambang air dan Kesuburan tanah
Pohon Hayat dan Payung
Atap rumah Banjar Bubungan Tinggi yang menjulang ke atas merupakan citra dasar sebuah “Payung” yang menunjukkan satu orientasi kekuasaan ke atas (lambang kebangsawanan yang biasa menggunakan “Payung Kuning”).

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjungan yang terdiri atas Anjungan Kanan dan Anjungan Kiwa
-->
Simetris

Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjungan yang terdiri atas Anjungan Kanan dan Anjungan Kiwa
Filosofi simetris (seimbang) dalam Pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian menjadi Mantri Panganan (Kelompok menteri kanan) dan Mantri Pangiwa (kelompok menteri kiri)
Konsep Simetris tercermin pada rumah Bubungan Tinggi
Kepala - Badan - Kaki
Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan Tubuh Manusia yang terbagi menjadi bagian secara Vertikal yaitu :
1. Kepala
2. Badan
3. Kaki
Anjunga diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri
Tawing Halat
Ruang dalam rumah Banjar Bubungan Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat private dan semi private.
Diantara ruang Penampikan Basar yang bersifat semi prive dengan ruang Palindung yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya "dinding pemisah"
Tawing Halat ni bagian tengahnya dapat dibuka sehingga seolah-olah suatu garis pemisah transparan antara dua dunia (luar dan dalam) menjadi terbuka.
Denah Cacak Burung
Denah rumah Banjar Bubungan Tinggi berbentuk “tanda tambah”
yang merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah
muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral
Ruangan Palindungan meurpakan titik perpotongan poros-poros bangunan. secara kosmologi maka disinilah bagian paling utama dari rumah Banjar Bubungan tinggi.
Tawing Halat Melindungi area "dalam" yang merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang Palindungan.
Tata Nilai Ruangan
Pada
rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu
Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri
dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan
sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan
(Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu
utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki
lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik
Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat
atau "dinding tengah" yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang
hierarkis.
- Ruang Penampik Kecil tempat bagi anak-anak
- Ruang Penampik Tangah sebagai tempat orang biasa atau para pemuda
- Ruang Penampik Basar yang diperuntukan untuk tokoh masyarakat, hanya
berpengaruh luas dan terpandang.
Ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar Tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (Bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantara keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam kerajaan beserta kaum hartawan.