Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Cerita Naga dalam Folklor Banjar

Posted: Kamis, 06 September 2012 by Rusman Effendi in
1


Oleh Tajuddin Noor Ganie

Naga secara luas dikenal sebagai binatang mitologis yang identik dengan etnis Cina. Bahkan sudah menjadi semacam idiom kultur bagi orang-orang yang berasal dari negeri tirai bambu ini.
Berdasarkan kenyataan itu maka logika naga mestinya hanya dikenal dalam folklor Cina saja. Tapi kenyataan menunjukkan bahwa cerita naga juga terdapat dalam khasanah cerita rakyat di berbagai etnis lainnya di muka bumi ini.

Paling tidak cerita naga juga terdapat dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedikitnya ada 5 buah cerita naga yang berhasil penulis temukan, yaitu :
(1) Si Rintik dan Si Ribut,
(2) Riwayat Luk Si Naga,
(3) Naga Kembat Dari Pulau Kaget,
(4) Keris Naga Runting, dan
(5) Keris Naga Salira.

Keberadaan cerita naga dalam folklor Banjar diduga merupakan dampak ikutan dari proses asimilasi dan akultrasi antar kedua etnis dimaksud. Dalam hal ini riwayat masuknya cerita naga dalam folktor Banjar identik dengan riwayat masuknya cerita wayang dalam khasanah folklor Jawa.

Menurut catatan Mr Gusti Mayur (1979:20-21), sejarah asimilasi dan akultrasi etnis Cina dan etnis Banjar di Kalsel diduga sudah mulai terjadi setidak-tidaknya sejak abad ke 5-6. Pada waktu itu diceritakan bahwa Empu Mandastana telah mengundang sejumlah pengrajin perunggu etnis Cina untuk mengerjakan sepasang patung perunggu yang akan diraja-ratukan secara simbolik di Kerajaan Negara Dipa ketika itu. Kelak dikemudian hari patung perunggu dimaksud dihormati atau bahkan dikultuskan sebagai Raja dan Ratu di Candi Agung (Amuntai).

Selanjutnya menurut catatan majalah "Jakarta Jakarta" ( 84/1988:12-13) disebutkan bahwa pada tahun 1596-1601 para pedagang lada etnis Cina telah menguasai perdagangan lada di Kerajaan Banjar. Hal ini disebabkan Sultan Hidayatullah (Raja Banjar ke 3) memang lebih senang menjalin hubungan dagang dengan para pedagang lada etnis Cina, ketimbang dengan etnis Belanda dan Portugis.

Hubungan antar etnis yang begitu mesra juga tercermin dari adanya perkawinan antar etnis yang terjadi antara etnis Cina dengan etnis Banjar. Dalam hal ini yang paling menonjol adalah perkawinan antara Sultan Muda Abdurrahman dengan Nyai Aminah dan perkawinan antara Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari dengan Nyonya Gwat.

Perkawinan antara Sultan Muda Abdurrahman (Putera Mahkota) dengan Nyai Aminah bahkan melahirkan seorang putera yang kelak dinobatkan sebagai Raja Banjar pada tahun 1857-1859, yaitu Sultan Tamjidillah III.

Sedangkan perkawinan antara Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari dengan Nyonya Gwat kelak dikemudian hari melahirkan anak, cucu, piat yang dikenal luas sebagai alim ulama yang sangat berjasa dalam menyebarkan syiar agama Islam ke berbagai tempat di muka bumi ini.

Bukti lain menyangkut mesranya hubungan kemasyarakatan antara etnis Cina dan etnis Banjar di Kalsel juga tercermin dari adanya makam seorang etnis Cina di pemakaman khusus para Raja Banjar di Kuin Utara (Banjarmasin). Dalam hal ini makam seorang etnis Cina dimaksud berada satu komplek dengan makam Sultan Suriansyah, Sultan Rakhmatillah dan Sultan Hidayatullah. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa orang yang berasal dari kalangan etnis Cina dimaksud telah menempati posisi yang terbilang penting dalam silsilah raja-raja di Kerajaan Banjar. Sesungguhnya masih banyak bukti-bukti lainnya lagi yang bisa dijadikan sebagai petunjuk betapa mesranya hubungan kemasyarakatan antar etnis Cina dan etnis Banjar di Kalsel.

Menilik dari asal-usul keberadaannya maka naga-naga yang selama ini diyakini sebagai penunggu gaib yang tidak kasat mata atas sejumlah tempat angker di Kalsel ada yang berasal dari jelmaan sebuah patung kayu ("Si Rintik dan Si Ribut") dan ada pula yang berasal dari jelmaan sebilah keris pusaka yang frustrasi karena ditinggal mati oleh pemiliknya (Keris Naga Runting" dan "Keris Naga Salira").

Selain itu ada pula naga yang diyakini sebagai berasal dari manusia seperti kita juga yang menjelma menjadi naga karena kecerobohannya yang secara tidak sengaja memakan makanan tertentu yang dipantangkan/ditabukan. Dalam hal ini ada yang karena memakan telur naga ("Luk Si Naga") dan ada pula yang karena memakan potongan kayu ulin bergetah merah yang ditemukannya di hutan ("Naga Kembar Dari Pulau Kaget").

Dalam folklor Banjar berjudul "Si Rintik dan Si Ribut" diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala di desa Margasari (Tapin) hidup seorang lelaki setengah baya bernama Gudabam. Gudabam ketika itu dikenal sebagai seorang pemahat patung yang terkenal ke seantero daerah ini. Dia ketika itu tengah mengerjakan sepasang patung naga pesanan dari seorang saudagar setempat.

Konon selama Gudabam mengerjakan pemahatan patung naga tersebut desa Margasari terus menerus diguyur hujan. Semakin hari pengerjaan patung naga dimaksud semakin mendekati penyelesaian dan hujan yang mengguyur desa Margasari semakin hari semakin deras saja. Puncaknya terjadi ketika patung naga dimaksud selesai dikerjakan, desa Margasari dilanda banjir bandang yang sangat dahsyat. Rumah Gudabam dan rumah penduduk desa Margasari lainnya porak poranda dihantam banjir bandang itu. Ketika itulah penduduk desa Margasari melihat betapa patung naga buatan Gudabam tiba-tiba hidup karena dirasuki roh gaib dari makhluk halus yang tidak kasat mata. Pasangan patung naga dimaksud berubah wujud menjadi naga sesungguhnya dan segera berenang ke hilir sungai.

Setelah bencana banjir bandang dimaksud berakhir barulah diketahui bahwa Gudabam telah hilang tak tentu rimbanya karena terbawa arus air bah yang menerjang rumah panggungnya.

Sementara itu tidak sedikit penduduk setempat yang mempercayai/meyakini bahwa pasangan naga yang berasal dari jelmaan patung naga buatan tersebut masih hidup secara tidak kasat hingga sekarang ini. Jika hujan rintik-rintik membasahi desa Margasari maka itu pertanda naga jantan akan segera menampakkan dirinya sejenak, sedangkan jika desa Margasari dilanda angin ribut, maka itu pertanda naga betina yang akan menampakkan diri. Sesuai dengan kepercayaan/keyakinan sepasang naga itu kemudian diberi nama Si Rintik (naga jantan) dan Si Ribut (naga betina).

Dalam folklor Banjar berjudul "Keris Naga Runting" dan "Keris Naga Salira" diceritakan bahwa ada juga naga berasal dari jelmaan sebilah keris pusaka yang frustrasi karena ditinggal wafat oleh pemiliknya (Sunarti dkk, 1978:111-114). Memang menurut kepercayaan supertitious (non agama samawi) dikalangan etnis Banjar di Kalsel diyakini bahwa pada setiap bilah keris pusaka sesungguhnya bersemayam dalam keris Naga Runting dan keris Salira inilah yang kemudian hidup secara gentayangan sebagai naga gaib yang tidak kasat mata.

Folklor Banjar berjudul "Luk Si Naga" adalah sebuah cerita rakyat yang berfungsi sebagai etiologi, yaitu cerita mengenai asal-usul penamaan desa Luk Si Naga di tepi Sungai Amandit. Konon, pada zaman dahulu kala di daerah itu pernah hidup pasangan suami istri bernama Ning Kurungan yang kemudian berubah wujud menjadi sepasang naga.

Menurut cerita itu Ning Kurungan dan istrinya pergi menangguk ikan di Sungai Amandit tak jauh dari rumahnya. Aneh hingga menjelang senja pasangan suami istri ini belum juga berhasil memperoleh ikan seekor jua pun. Padahal selama ini Sungai Amandit dikenal sebagai sungai yang banyak ikannya. Menjelang pulang ke rumahnya, Ning Kurungan berhasil menangguk sebutir telur sebesar jeruk bali. Telur raksasa itu pun mereka bawa pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah telur raksasa itu pun mereka masak untuk dimakan sebagai lauk pauk. Setelah makan Ning Kurungan dan istrinya tertidur nyenyak sekali. Besok pagi keduanya terbangun dan kaget sekali, karena mengetahui tubuh mereka telah berubah wujud menjadi sepasang naga. Tidak ada pilihan bagi keduanya kecuali pergi meninggalkan rumah mereka untuk kemudian membangun tempat kediaman baru di dasar Sungai Amandit (Sunarti dkk, 1979: 37-40).

Hampir senada ceritanya adalah folklor Banjar berjudul "Naga Kembar di Pulau Kaget". Dalam folklor Banjar ini diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala ada dua orang bersaudara kembar Sutakil dan Sutakul. Keduanya tengah berada di Pulau Kaget untuk menebang empat batang kayu ulin yang tumbuh di pulau angker tersebut. Ketika itu keduanya telah berhasil menebang tiga batang kayu ulin dan tengah menyelesaikan penebangan kayu ulin yang keempat.

Menurut ceritanya, kayu ulin yang keempat ini sangat sulit ditebang, batangnya sangat besar dan sangat keras. Sudah satu minggu Sutakil dan Sutakul menebangnya tapi kayu ulin dimaksud belum juga berhasil ditumbangkan. Sutakil dan Sutakul menjadi penasaran tapi keduanya sudah bertekad pantang menyerah.

Kayu ulin yang mereka tebang ketika itu sesungguhnya bukan kayu ulin biasa, getah yang keluar dari bekas tebangannya berwarna merah dan mengeluarkan bau anyir persis seperti darah. Suatu ketika Sutakil iseng-iseng melemparkan potongan kayu ulin bekas tebangannya itu ke dalam perapian. Aneh dari sana keluar bau gurih dari daging yang terpanggang.

Sutakil yang merasa penasaran kemudian mengambil potongan kayu ulin yang terbakar itu, kemudian mencicipi atau mencecapkan rasanya di lidah, ternyata potongan kayu ulin dimaksud terasa lezat persis seperti daging panggang pada umumnya. Begitulah, sejak itu Sutakil dan Sutakul menjadikan bekas tebangan pohon ulin dimaksud sebagai lauk-pauk teman makan nasi mereka.

Tapi akibatnya sungguh patal, ketika suatu pagi keduanya tiba-tiba berubah wujud menjadi dua ekor naga. Ternyata bekas tebangan kayu ulin yang mereka makan sebagai daging panggang dimaksud tidak lain adalah potongan tubuh dari seekor naga jelmaan.

Konon, menurut pandangan mata batin sejumlah paranormal di kota Banjarmasin, naga kembar jelmaan dari Sutakil dan Sutakul dimaksud hingga sekarang masih menjadi penunggu tetap Pulau Kaget yang angker itu. Pulau Kaget sendiri terletak di tengah-tengah Sungai Barito dan kini dikenal sebagai salah satu obyek wisata andalan daerah Kalsel.


-oOo-

1 komentar:

  1. Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu kurungan serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan perang hamuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di taal, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Baseri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.