Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Rumah Bulat, Rumah Bersejarah di Marabahan

Posted: Rabu, 30 November 2011 by Rusman Effendi in
0

Rumah Bulat, demikian masyarakat setempat menyebutnya, merupakan salah satu rumah bertipe joglo. Berlokasi di Jalan Panglima Wangkang RT 8 Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Posisinya menghadap Sungai Barito. Jarak dari Banjarmasin ke lokasi lebih kurang 45 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan darat (mobil, sepeda motor) atau melalui sungai, yakni dari Sungai Martapura, Sungai Kuin, terus ke Sungai Barito.
Dari beberapa sumber dapat diketahui bahwa Rumah Bulat didirikan oleh seorang demang di Kewedanan Bakumpai bernama H. Abdul Azis sekitar tahun 1875. Rumah ini kemudian digunakan sebagai gudang atau tempat menyimpan barang-barang milik Demang, sedangkan pemiliknya sendiri bertempat tinggal di sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah bulat tersebut.
Nilai terpenting dari rumah tersebut bukan pada arsitekturnya yang dipengaruhi bangunan joglo Jawa, melainkan nilai sejarahnya sebagai bekas markas kaum pergerakan khususnya dari kalangan pemuda Marabahan (dahulu Bakumpai).
Pada mulanya rumah ini pernah digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan H.M. Japeri, salah seorang ulama di Marabahan. Di awal abad ke-20 di rumah ini menjadi tempat perkumpulan musik untuk menampung bakat seni para pemuda Marabahan. Namun lama kelamaan, perkumpulan ini menjadi sebuah organisasi kepemudaan bernama Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) dibentuk pada tanggal 1 Maret 1929 dengan ketuanya M. Ruslan, dibantu oleh Suriadi sebagai sekretaris I dan Mawardi sebagai sekretaris II dengan pelindungnya H.M. Arip, bermarkas di sebuah rumah Joglo yang disebut masyarakat setempat dengan nama Rumah Bulat.

Dalam organisasi PPM mereka mendirikan Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dengan nama Family Bond bertempat di Rumah Bulat bergabung dengan perkumpulan musik yang telah ada. Mereka berlangganan surat kabar dan majalah. Dari surat kabar dan majalah tersebut, para pemuda Marabahan dapat mengikuti berita dan membaca tulisan yang mempropagandakan cita-cita kebangsaan yang saat itu telah tumbuh di Jawa maupun ditempat lainnya. Selain itu datangnya tokoh-tokoh pergerakan dari Jawa juga turut mewarnai tumbuhnya benih-benih kebangsaan dan semangat pergerakan di daerah ini.
Pada tahun 1930 Persatuan Pemuda Marabahan memperluas tujuan dan ruang geraknya dengan mensponsori berdirinya Sarekat Kalimantan dengan Pedoman Besarnya H.M. Arip. Perubahan nama menjadi Sarekat Kalimantan antara lain dalam rangka memenuhi syarat untuk menjadi anggota Indonesia Muda yang dibentuk setelah Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.
Susunan pengurus Sarekat Kalimantan terdiri dari M. Ruslan (Ketua), A. Gani (Wakil Ketua), A. Sunhaji (Penulis I), Sabran (Penulis II), Tambi (Bendahara I), Matran (Bendahara II), dan H. Basirun, Sabran B, Muhiddin serta Imbran (Pembantu-pembantu) dengan Ketua Pedoman Besarnya adalah H.M. Arip. Dalam anggaran dasarnya disebutkan, Sarekat Kalimantan bertujuan ke arah keekonomian dan kesosialan.
Setelah terbentuknya cabang-cabang Sarekat Kalimantan di daerah lainnya di Kalimantan, maka Sarekat Kalimantan melangsungkan kongresnya yang pertama pada tahun 1930 di Bakumpai (Marabahan).
Di Marabahan, atas dorongan H.M. Arip telah berdiri pula PHIS Swasta pada tahun 1929 oleh para pemuda Marabahan yang dikelola oleh Sarekat Islam. H.M. Arip (H. Matarip atau H. Muhammad Arip Bakumpai adalah seorang pedagang kelahiran Bakumpai (Marabahan) yang pulang pergi Banjarmasin – Surabaya. Ketika berada di Surabaya, H.M. Arip turut aktif dalam pergerakan dengan menjabat sebagai Komisaris SI di Surabaya. Dan atas anjuran ketua SI OS Cokroaminoto, H.M. Arip membawa Sarekat Islam ke Kalimantan Selatan.
Mula-mula PHIS dipimpin dan diajar oleh Marjono (pegawai Borneo Post). Mengingat pesatnya perkembangan sekolah tersebut, Marjono mendatangkan teman-temannya yakni Sutomo dan Sunaryo anggota Sarikat Buruh di Surabaya untuk menjadi guru di PHIS.
Pusat kegiatan PHIS bertempat di “Rumah Bulat” bergabung dengan Sarekat Kalimantan (sebelum menjadi BINDO). Sekolah PHIS ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Marabahan, sehingga jumlah muridnya semakin banyak. Guru-guru PHIS menggembleng semangat kebangsaan pemuda-pemuda Marabahan melalui pengajaran dan juga kepanduan yang waktu itu bernama Borneo Padvinder Organisatie (BPO).
Setelah berlangsung enam bulan kegiatan PHIS mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Marjono, Sutomo dan Sunaryo dicurigai sebagai anggota partai terlarang. Keterkaitan mereka dengan PARI diketahui Belanda menyusul ditemukannya dokumen-dokumen PARI di Singapura. Diantara dokumen tersebut terdapat surat-surat dari Marjono, Sutomo dan Sunaryo dari Marabahan. Belanda mengambil tindakan tegas dengan menggrebek Rumah Bulat, dan menahan Marjono dan Sunaryo dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (Irian Barat). 
Atas anjuran Marjono sewaktu akan ditahan agar kegiatan PHIS tetap dilanjutkan dengan bantuan Taman Siswa, maka tokoh-tokoh Marabahan bersama Sutomo yang muncul kemudian berangkat ke Yogyakarta menemui tokoh-tokoh Perguruan Taman Siswa. Sebagai hasil hubungan itulah pada tahun 1931 Ki Hajar Dewantara mengirimkan guru-guru Taman Siswa yaitu M. Yusak, Sundoro dan Yusyadi.
Sejak PHIS dibantu pengelolaannya oleh ketiga guru tersebut, maka paada tanggal 1 Januari 1931 atas persetujuan bersama ditetapkan bahwa PHIS dijadikan Perguruan Taman Siswa cabang Marabahan dengan kegiatan bertempat di Rumah Bulat. Dari Marabahan, Taman Siswa berkembang di daerah lainnya seperti di Banjarmasin Kandangan, Barabai, Kelua dan Kuala Kapuas.
Sekolah Taman Siswa ini hanya menyelenggarakan pendidikan setingkat Taman Muda atau tingkat pendidikan kelas 4-6 untuk anak-anak berumur 10 s.d. 13 tahun. Meski demikian, orang dewasa juga dapat mengikuti pendidikan yang dikelola Perguruan Taman Siswa pada sore hari.
Setelah tahun 1942, tentara Jepang datang ke Marabahan dan mengambil alih Rumah Bulat. Namun tidak berlangsung lama, karena Marabahan kembali dikuasai oleh NICA menyusul kekalahan Jepang melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
Sebelum NICA datang, Rumah Bulat sudah terlebih dahulu dikuasai oleh para pemuda Marabahan yang tergabung dalam Pemuda Persatuan Rakyat Indonesia (PPRI). Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 November 1945 di¬pimpin oleh M Ruslan, Bahaudin, dan M. Arpan.
Rumah ini juga ditempati oleh Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) IX Pelopor, yakni sembilan pelaku ekspedisi dari BPKI Surabaya pimpinan Bung Tomo. Mereka dipimpin oleh H. Ahmad Hasan dan Jaderi, berangkat dari Panarukan (7 November 1945) dengan kapal layar dan berhasil mendarat di Samuda (Sampit) pada tanggal 18 November 1945.
Selanjutnya rombongan tiba di Marabahan dan disambut oleh PPRI. Mereka kemudian rnembentuk Pemerintahan Darurat RI Daerah Marabahan.
Pagi hari tanggal 5 Desember 1945 bendera Merah Putih dikibarkan di depan Kantor Kewedanan Bakumpai, dan dinyatakan bahwa mulai saat itu Kewedanan Bakumpai rnenjadi bagian wilayah Republik Indonesia.
Setelah pengibaran bendera, para pemuda PPRI bersama BPRI dan pejuang lainnya kemudian menyerang posisi KNIL dan Polisi NICA di Marabahan. Dalam pertempuran tersebut Marabahan dapat direbut dan dinyatakan sebagai bagian wilayah RI. Bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan Bendera Merah Putih. Peristiwa tersebut sangat heroik, karena Marabahan menjadi wilayah pertama Republik Indonesia di Kalimantan dan untuk pertama kali pula bendera Merah Putih berkibar di bumi Kalimantan Merdeka.
Sumber : http://bubuhanbanjar.wordpress.com

0 komentar: