Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Makam-Makam Sultan Banjar

Posted: Kamis, 10 Mei 2012 by Rusman Effendi in
0

Dalam Kesempatan ini kami mencoba menelusuri Makam-makam Raja Banjar, terhitung dari Zaman Kesultanan yang ada di Kalimantan dan Pulau Jawa, dan Mohon Maaf jika Posting ini kami Copas dari Blog lain tujuan kami supaya Generasi Muda Banjar mengetahuinya, Namun masih ada lagi Beberapa makam Sultan yang belum diketahui, mohon infonya kepada Saudara-Saudara kalau ada yang mengetahuinya.

Sultan Suriansyah 
Sultan Suriansyah atau Sultan Suryanullah atau Sultan Suria Angsa adalah Raja Banjarmasin pertama yang memeluk Islam. Ia memerintah tahun 1520-1540 Pangeran Samudera merupakan raja Banjar pertama sekaligus raja Kalimantan pertama yang bergelar Sultan yaitu Sultan Suryanullah. Gelar Sultan Suryanullah tersebut diberikan oleh seorang Arab yang pertama datang di Banjarmasin, beberapa waktu setelah Pangeran Samudera diislamkan oleh utusan Kesultanan Demak.Setelah mangkat Sultan ini mendapat gelar Anumerta  Panembahan Batu Habang atau Susuhunan Batu Habang, yang dinamakan berdasarkan  warna  merah  (habang) pada batu yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah  di kecamatan  Banjarmasin Utara, BanjarmasinKalimantan Selatan.

Sultan Rahmatullah
Sultan Rahmatullah adalah Sultan ke-II dari Kesultanan Banjar. Sultan Rahmatullah adalah anak tertua dari Sultan Suryanullah (Suriansyah) – Sultan Banjar. Sultan ini memerintah tahun 1550 – 1570 dan mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Putih atau Susuhunan Batu Putih, yang dinamakan berdasarkan warna putih pada batu yang menutupi makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah di Kecamatan Banjarmasin Utara, BanjarmasinKalimantan SelatanIndonesia.


Sultan Hidayatullah
Sultan Hidayatullah I bin Sultan Rahmatullah adalah Raja III dari Kesultanan Banjar yang memerintah antara 1570-1595. Ia menggantikan ayahnya Sultan Rahmatullah (Raja II Kesultanan Banjar). Setelah wafatnya beliau mendapat gelar anumerta Panembahan Batu Irang atau Sunan Batu Irang, karena batu-batu yang menutupi makamnya berwarna hitam (bahasa Banjar hirang). Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan. Ia ada memperistri anak dari Khatib Banun, seorang menteri Kesultanan Banjar yang berasal dari kalangan Suku Biaju. Ia dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin UtaraKota Banjarmasin. Makan Sultan Hidayatullah berdampingan dengan Makan Sultan Rahmatullah orang tua beliau.

Sultan Musta’inbillah
Belum ada data

Sultan Inayatullah
Sultan Inayatullah alias Ratu Agung, nama sebelumnya Pangeran Dipati Tuha (ke-1) atau Sultan Indallah adalah Sultan Banjar antara tahun 1642-1647. Sultan Inayatullah adalah gelar resmi yang digunakan dalam khutbah Jumat di masjid-masjid, sedangkan gelar yang dimasyhurkan/dipopulerkan adalah Ratu Agung. Nama kecilnya tidak diketahui, sedangkan gelarnya sebagai Dipati (pejabat di bawah mangkubumi) adalah Pangeran Dipati Tuha I. Beliau adalah putera dari Sultan Mustain Billah.


Sultan Sa’idullah
Belum ada data

Sultan Tahlilullah
Sultan Tahlilullah berputra enam orang yaitu Pangeran Tamjidullah, Pangeran Nullah, Pangeran Dipati, Pangeran Istana Dipati, Pangeran Wira Kasuma dan Pangeran Mas. Pangeran Mas kelak menjadi mangkubumi dengan gelar Ratu Anom Kasuma Yuda (mangkubumi Sultan Tahmidullah II). Kyai Martaraga dilantik menjadi penghulu (ulama keraton) tahun 1752. Sepupu Sultan Sepuh yang bernama Pangeran Suryanata menjadi ketua Dewan Mahkota. Ia tinggal di Martapura dan meninggal tahun 1750. Putera almarhum yang bernama Pangeran Prabukasuma menggantikan sebagai ketua Dewan Mahkota. Beberapa anggota Dewan Mahkota tinggal di luar Kayu Tangi yaitu Pangeran Marta dan Pangeran Ulahnegara yang tinggal di Margasari dan Pangeran Wiranata tinggal di Tapin

Sultan Tahmidullah
Belum ada data

Sultan Tamjidillah
Sultan Tamjidillah I bin SultanTahlilullah adalah Sultan Banjar antara tahun 1734 1759 (mangkat 1767) atau Panembahan Tingi.
Pangeran Tamjidillah I semula menjabat mangkubumi kemudian setelah wafatnya Sultan Hamidullah atau Sultan Kuning ia bertindak sebagai wali  Putra Mahkota yaitu Muhammad Aliuddin Aminullah yang belum dewasa. Tetapi kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Sepuh. Sultan Sepuh dibantu adiknya Pangeran Nullah (Panembahan Hirang) sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan).


Sultan Badarul Alam
Pengganti Sultan Tahmidilllah I adalah Sultan Kuning atau Sultan Badarul Alam bin Sultan Tahlilullah, namun dalam tahun itu (1734 Masehi) Sultan Kuning mangkat sedangkan anaknya, Muhammad Aliuddin Aminullah masih belum dewasa. Maka, Pangeran Tamjid atau Pangeran Tamjidillah yang memangku jabatan mangkubumi dengan gelar Sultan Muda untuk memegang pemerintahan.










Sultan Tahmidillah
Sultan Tahmidillah II (Sunan Nata Alam atau Maulana As Sulthan Tahmidillah bni As Sulthan Tamjidillah atau Tahhmid Illah II atau Panembahan Batoe) adalah  Sultan Banjar tahun 1761-1801. Sunan Nata Alam atau Susuhunan Nata Alam adalah gelar yang digunakannya sejak tahun 1772. Sedangkan gelar tahmidillah merupakan paduan dari kata Tahmid dan Allah, secara harafiah Tahmid berarti keadaan menyampaikan pujian atau rasa syukur berkali-kali (kepada Allah). Sultan Tahmidillah II putera dari Sultan Tamjidullah I. Sultan Tahmidillah II menikah dengan Putri Lawiyah, puteri dari Sultan Muhammad. Pangeran naik tahta menggantikan Sultan Muhammad yang meninggal karena sakit paru-paru yang dideritanya sejal awal pemerintahnnya (1759). Atas perintah Dewan Mahkota tahun 1762 saudara Sultan Nata yang bernama Prabujaya dilantik menjadi mangkubumi

Sultan Sulaiman Rahmatullah
Sultan Sulaiman Al-Mu’tamidullah/Sultan Sulaiman Saidullah  bin Sunan Sulaiman Saidullah/Sunan Nata Alam/Sultan Tahmidillah II adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1801-1825. Kesultanan Banjar  terletak di Kalimantan Selatan. Adiknya Pangeran Mangku Dilaga dilantik sebagai Mangkubumi dengan gelar Ratu Anum Mangku Dilaga. Belakangan Ratu Anum Mangku Dilaga ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta. Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri.
Sultan Adam Al Wasiqubillah 
Sultan Adam Al-Watsiqbillah  bin Sultan Sulaiman Saidullah II adalah Sultan Banjar yang memerintah antara tahun 1825-1 November 1857. Sultan Adam dilahirkan di Desa Karang Anyar, Kec. Karang Intan Kabupaten Banjar.
Sultan Adam putra tertua dari Sultan Sulaiman Rahmatullah yang berjumlah 23 orang. Sultan Adam memiliki saudara kandung sebanyak 5 orang dan saudara seayah 17 orang.



Sultan Muda Abdurrahman
Belum ada data

Pangeran Hidayatullah
Pangeran Hidayatullah diangkat menjadi Sultan Banjar berdasarkan Surat Wasiat Kakek beliau Sultan Adam. Pengangkatan ini dilakukan karena ayah Pangeran Hidayatullah, Sultan Muda Abdurrahman wafat.
Lahir di Martapura pada tahun 1822 M, di-didik secara Islami dipesantren Dalam Pagar Kalampayan (Didirikan oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari, salah seorang tokoh Agama Islam di Nusantara) sehingga memiliki ilimu kepemimpinan serta keagamaan yang cukup tinggi untuk kemudian dipersiapkan menjadi Sultan.
Sebelum menjadi Sultan sempat menduduki jabatan sebagai Mangkubumi Kesultanan pada tahun 1855 M. Pada saat itu jabatan Mangkubumi diangkat oleh Kolonial Belanda dengan persetujuan Sultan Adam. Dengan menduduki jabatan tersebut maka Pangeran Hidayatullah bisa lebih memahami & menyelami kondisi Kesultanan maupun rakyat Banjar, serta mengetahui kekuatan dan kelemahan kolonial Belanda (spionase), hal tersebut sangat berguna untuk persiapan perang 

Pangeran Antasari
Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar,  1809 dan  meninggal di Bayan Begok, Hindia-Belanda11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Sultan Banjar. Beliau menggantikan Sultan Hidayatullah Khalilullah atau Sultan Hidayatullah II. Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/ Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Muhammad Seman
Sultan Muhammad Seman  adalah Sultan Banjar dalam pemerintahan pada masa 1862-1905. Ia adalah putra dari Pangeran Antasari yang disebut Pagustian sebagai penerus Kerajaan Banjar. Di zaman Sultan Muhammad Seman, pemerintahan Banjar berada di Muara Teweh, di hulu sungai Barito. Sultan Muhammad Seman merupakan anak dari Pangeran Antasari dengan Nyai Fatimah. Nyai Fatimah adalah saudara perempuan dari Tumenggung Surapati, panglima Dayak (Siang) dalam Perang Barito. Jadi sultan ini masih ada keturunan Dayak dari pihak ibunya.


Sebagian Sumber kami ambil di : http://kelompok4isbd.wordpress.com/

0 komentar: