Miniatur Rumah Adat Banjar

Miniatur Rumah Adat Banjar
Menerima Pesanan Pembuatan Miniatur Rumah Adat Banjar Hubungi RUSMAN EFFENDI : HP. 0852.4772.9772 Pin BB 7507BCA3, Galery Miniatur 51E09C13


Berbagi ke

Kerajaan Banjar Adalah Majapahit Baru di Kalimantan

Posted: Kamis, 22 April 2010 by Rusman Effendi in
0

Dari penelitian arkeologi, ada sejumlah indikasi yang disamarkan dalam Tutur Candi dan Hikayat Banjar, yaitu:
  1. Pendiri Negeri Negara Dipa dan Candi (Agung) bernama Ampu Jatmika yang berasal dari Majapahit.
  2. Ampu Jatmika menyuruh menjemput keluarga dan hartanya ke Negeri Keling di Majapahit.
  3. Ampu Jatmika menaklukkan daerah-daerah lain di sekitar Negara Dipa, dipimpin oleh seorang Puteri bernama Junjung Buih yang bersuamikan pangeran dari Majapahit bernama Suryanata (Cakranegara).
  4. Pangeran Suryanata menaklukkan negeri-negeri di Kalimantan yang sebagian sudah disebutkan dalam Kitab Negarakrtagama.
  5. Data dari kitab-kitab tersebut memungkinkan kisah Negara Dipa adalah sebuah NEGARA VASAL dari Majapahit sejak sebelum tahun 1365 M
Kehancuran dan kekalahan Kerajaan Nan Sarunai serta leburnya rakyat Nan Sarunai kebawah kekuasaan Negara Dipa membuat rakyat Nan Sarunai harus terpaksa menerima perdamaian dibawah pemerintahan orang lain. Seperti diketahui Negara Dipa didirikan diatas puing Negara Nan Sarunai oleh Ampu Jatmika dari Majapahit. Negara Dipa inilah cikal bakal Kesultanan Banjarmasin. Dan dengan bubarnya Negara Nan Sarunai (abad XIV) sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan Bangsa Dayak (Ma’anyan?) sebagai akibat didirikannya Negara Dipa diatas puing-puingnya, kembali membuat sebagian penduduk yang tidak terima melakukan eksodus guna mencari pemukiman baru ke pedalaman. Akhirnya terjadi lagi perpisahan dan perpecahan, sehingga muncul pula pemukiman-pemukiman baru yang terpisah-pisah jauh. Puncaknya menyebarlah pemukiman-pemukiman baru itu dari sekitar Gunung Rumung, Katuping Balah, Waman Sabuku, Candi Agung, Candi Laras, Patukangan, Labuhan Amas, Bakumpai Lawas, Ulak Banyu Tanggang, Maniungku, Abun Alas, Muara Binsau, Danau Salak, Dangka Nangkai, Kupang Sunnung, Danaukien, Tuntang Alu dan terakhir pemukiman Baras Ruku.

Lambung Mangkurat anak Mpu Jatmika terkenal sebagai pembina utama kerajaan ini. Keturunannyalah kemudian yang menurunkan raja-raja Banjar-Martapura sejak tahun 1600 hingga berakhir pada zaman Belanda tahun 1860. Konon kabarnya Candi Agung sebagai peninggalan zaman Hindu di Amuntai itu masih utuh sampai zaman Islam permulaan tahun 1600, dan kemudian dihancurkan Belanda ketika mereka dapat menduduki Amuntai akhir 1800. Kerajaan Banjar masuk Islam secara resmi dengan bantuan Kerajaan Demak pada tahun 1600.

Ketika Kerajaan Hindu-Majapahit diperintah oleh Raja Brawijaya putera Angka Wijaya, saat itulah kerajaan mengalami keruntuhan. Raja yang merobohkan Kerajaan Majapahit ialah Raden Patah dengan delapan orang menterinya, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Ngundung dan Sunan Demak. Mulai saat itulah agama Islam tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan runtuhnya kerajaan Majapahit maka berkembanglah Kerajaan Islam Banjarmasin tahun 1540, Kerajaan Islam Kotawaringin tahun 1620, Kerajaan Pasir (Tanah Grogot) tahun 1600, Kerajaan Kutai tahun 1600, Berau dan Bulungan tahun 1700, Pontianak tahun 1450, Matan tahun 1743 dan Mempawah tahun 1750.

Pada mulanya kerajaan Hindu berperang dengan kerajaan-kerajaan Islam, terutama Kerajaan Hindu Candi Laras, Candi Agung, Tanjung Pura dan lain-lain. Tetapi karena rakyat semakin banyak memeluk agama Islam termasuk sebagian rakyat Dayak di pantai-pantai yang dengan kesadaran sendiri masuk Islam, akhirnya Kerajaan Hindu menyerah. Rakyat Dayak yang telah masuk Islam sering disebut sebagai Dayak Melayu dan kebanyakan berdomisili di Kuala Kapuas, Tumpung Laung (Barito) dan dibeberapa Kampung Melayu lainnya. Sebenarnya mereka tetap saja suku Dayak, hanya saja sudah beragama Islam.

-oOo-

0 komentar: